Narasi: Riski
Foto: Dok SPTN Wilayah I Long Bawan
NUNUKAN – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dan Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan memperkuat kolaborasi melalui sinkronisasi data geospasial guna mendukung Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian hukum atas pemanfaatan lahan sekaligus meminimalisir tumpang tindih antara kawasan hutan dan Area Penggunaan Lain (APL) di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Kepala Seksi PTN Wilayah I Balai TNKM, Hery Gunawan, menjelaskan bahwa akurasi data batas kawasan menjadi hal yang sangat penting mengingat luas TNKM di Kabupaten Nunukan mencapai 272.930,16 hektare, mencakup wilayah strategis seperti Krayan dan Lumbis Hulu.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan, Husen, S.H., menegaskan bahwa integrasi data ini merupakan bagian dari mandat nasional dalam mewujudkan satu referensi peta tunggal yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami di BPN Nunukan berkomitmen penuh mendukung sinkronisasi data geospasial ini. Tujuannya jelas, yakni memberikan kepastian hukum hak atas tanah bagi masyarakat sekaligus melindungi aset negara berupa kawasan konservasi. Dengan peta yang sinkron, kita dapat menghindari potensi konflik agraria dan kesalahan administrasi dalam penerbitan sertifikat tanah di sekitar batas kawasan hutan,” ujar Husen.

Koordinasi Bersama Kepala BPN Nunukan (Foto: SPTN I Long Bawan)
Ia juga menambahkan bahwa koordinasi lintas instansi ini akan mendukung pelaksanaan program strategis nasional, seperti Redistribusi Tanah dan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), khususnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
Manfaat Utama Sinkronisasi Data:
Melalui integrasi sistem antara Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan dan Balai TNKM, diharapkan tata kelola ruang di wilayah perbatasan dapat berjalan lebih profesional, transparan, dan akuntabel sesuai semangat “Melayani Hingga Batas Negara.”
Di bagian paling sunyi hutan Kalimantan Utara, terdapat sebuah wilayah yang tidak pernah tercatat dalam peta penjelajahan ataupun hiruk-pikuk peradaban. Tempat itu bernama Padang Savana Long Tua. Sebuah bentang alam yang terasa begitu berbeda di tengah lebatnya hutan hujan Kalimantan.
Hamparan savana luas membentang menguning seperti lautan emas. Kabut tipis menggantung setiap pagi, sementara malam dipenuhi suara satwa liar yang saling bersahutan, seolah menyanyikan lagu alam yang tak pernah berhenti. Namun, bukan hanya savananya yang membuat tempat ini istimewa. Di sanalah hidup seekor banteng Kalimantan yang gagah dan perkasa, satwa liar yang telah menjaga kawasan itu selama puluhan tahun.

Masyarakat Dayak Kenyah menyebutnya “Kelesiau”, sementara dunia mengenalnya sebagai Bos javanicus lowi atau Banteng Kalimantan. Ini bukan dongeng, bukan pula cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semua ini nyata, hidup, dan masih dapat ditemukan di lapangan hingga hari ini.
Pada tanggal 22 April hingga 6 Mei 2026, tim patroli kawasan dari Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah II Long Alango melaksanakan kegiatan patroli dan penjagaan kawasan di Long Tua. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi kawanan banteng Kalimantan. Tim patroli terdiri dari dua personel TNKM dan dua masyarakat desa penyangga yang bersama-sama menjalankan tugas konservasi di wilayah tersebut.
Melalui arahan Kepala Resor Sungai Bahau, kegiatan difokuskan pada pembinaan habitat banteng Kalimantan di Padang Savana Long Tua. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen TNKM dalam menjaga kelestarian habitat dan keberlangsungan hidup satwa liar di kawasan konservasi.
Kegiatan pembinaan habitat dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemotongan rumput tua menggunakan mesin rumput agar tunas-tunas muda dapat tumbuh kembali menghijau. Selain itu, dilakukan pula pembakaran terkendali pada sebagian area savana dengan pengawasan ketat agar api tidak merambat keluar kawasan. Setelah proses tersebut, rumput-rumput muda akan kembali tumbuh segar dan menjadi sumber pakan alami yang sangat disukai banteng Kalimantan.

Tidak hanya banteng, kawasan ini juga menjadi tempat hidup berbagai satwa herbivora lainnya seperti kijang, payau, babi hutan, dan pelanduk. Kehidupan liar di savana Long Tua menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting sebagai sumber pakan dan ruang hidup satwa-satwa hutan.
Dalam kegiatan patroli, tim juga melakukan pengambilan data dari kamera jebak (camera trap) yang telah dipasang sebelumnya. Dari hasil dokumentasi tersebut, terlihat beberapa foto dan video kawanan banteng yang sedang menikmati rumput muda hasil pembinaan habitat yang telah dilakukan. Momen itu menjadi bukti bahwa upaya kecil yang dilakukan dengan kesungguhan mampu memberi manfaat nyata bagi keberlangsungan satwa liar.
Karena itu, kegiatan pemeliharaan habitat di Padang Savana Long Tua perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar kawanan banteng dan satwa herbivora lainnya tidak keluar kawasan untuk mencari pakan. Menjaga dan merawat rumah sang penjaga savana bukan hanya tugas petugas konservasi, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar habitat ini tetap lestari dan kehidupan liar di dalamnya terus terjaga.
“Rumah sang penjaga savana bukan sekadar tempat, melainkan warisan ketulusan yang dijaga dengan cinta. Merawatnya berarti menghormati alam, menjaga kenangan, dan meneruskan nilai kehidupan bagi generasi yang akan datang.”
Salam cinta, salam juang, karena cinta kita berjuang. Salam konservasi.
Narasi : Irfan Andika
Foto : SPTN Wilayah II Long Alango
Di balik rimbunnya belantara jantung Kalimantan, tepatnya di dataran tinggi krayan, terhampar sebuah kearifan lokal yang terus dijaga kelestariannya yakni Beras Adan.
Tumbuh subur di lembah hijau, beras adan adalah mahakarya masyarakat adat yang diolah secara organik. Tanpa sentuhan bahan kimiawi sintetis, kesuburan sawah-sawah ini murni mengandalkan kearifan tradisional memanfaatkan kejernihan air pegunungan yang mengalir tanpa henti dari hutan di sekitarnya.

Pemandangan Kelompok Desa Long Puak, 2025
Beras adan memiliki ukuran yang lebih kecil dan bentuk yang cenderung lonjong dibandingkan dengan beras umum. Beras adan memiliki beberapa jenis yakni beras adan putih, merah, dan hitam. Karena dibudidayakan secara organik, beras adan 100% terbebas dari residu kimia sintetis. Tidak hanya itu, beras adan juga memiliki kadar gula yang lebih rendah, senyawa mineral, antioksidan, dan lebih kaya serat dibandingkan dengan beras umum.
Beras adan merupakan bukti nyata harmoni antara manusia dan alam. Sawah-sawah yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional kayan mentarang menjadi benteng pertahanan ekologis yang kokoh. Masyarakat adat menjaga tegakan pohon di hutan, karena mereka sadar penuh, dari akar-akar pohon itulah sumber air bersih mengalir untuk menghidupi padi Adan mereka.

Pembentukan Kelompok Batu Pun Bersama, 2020
Salah satu kegiatan TNKM yakni program pemberdayaan masyarakat dimana TNKM mendampingi kelompok masyarakat dalam mengelola potensi desa dengan tujuan mencapai kesejahteraan ekonomi. Pada 29 September 2020 Desa Long Puak di Wilayah Kurid mengesahkan pembentukan Kelompok Tani Hutan Batu Pun Bersama yang fokus pada produksi dan pemasaran beras adan supaya semakin banyak orang yang bisa mencoba beras adan.

Koordinasi Pembuatan Pirt FPMPTSP Kab, Nunukan, 2025
Setelah 5 tahun memproduksi dan memasarkan beras adan, TNKM semakin serius dan mendorong KTH Batu Pun Bersama untuk memasarkan beras adan ke seluruh penjuru negeri. Melalui SPTN I, TNKM membersamai KTH Batu Pun Bersama untuk mengurus administrasi untuk perizinan usaha dan edar produk agar sesuai dengan ketentuan dan bisa menembus pasar yang lebih luas lagi.

Tertarik untuk mencoba beras adan kurid juga? Hubungi 081212949040 (Otnel Akun)
Narasi: Riski
Foto: Dok SPTN Wilayah I Long Bawan
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang kembali menugaskan tim patroli untuk melakukan pengawasan kawasan hutan. Kali ini, wilayah kerja SPTN Wilayah II Resort Mentarang Tubu menjadi fokus kegiatan, dengan target patroli di sekitar Desa Rian Tubu.
Sebanyak enam anggota tim dan didampingi oleh warga lokal, memulai perjalanan panjang yang tidak mudah. Selama kurang lebih 12 hari, tim harus menembus lebatnya hutan, melintasi sungai, hingga mendaki dan menuruni jalur yang curam dan licin, sebuah bentuk komitmen nyata dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Menyusuri Sungai Mentarang
Tim memulai perjalanan Malinau menggunakan perahu menuju Desa Koala Lapang, titik terakhir yang dapat dijangkau oleh perahu. Selama kurang lebih lima jam, tim menyusuri Sungai Mentarang yang saat itu sedang dalam kondisi air bagus.
Namun di beberapa titik, perjalanan harus terhenti. Jiram yang besar memaksa tim turun dari perahu untuk mengurangi beban, sehingga tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tepi sungai yang dipenuhi bebatuan licin. Medan yang menantang ini menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi dalam menjalankan tugas pengawasan kawasan.
Menembus Jalur Darat Menuju Rian Tubu
Setibanya di Desa Koala Lapang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Desa Rian Tubu. Jalur yang dilalui tidak kalah berat, sejauh kurang lebih 10 KM tim sering melintasi sungai berarus kuat denganbebatuan yang licin di dasarnya, tak jarang juga mendaki dan menuruni perbukitan yang terjal, ditambah membawa beban logistik di punggung. Perjalanan ini menjadi gambaran nyata bahwa menjaga hutan bukan sekadar tugas administratif, melainkan kerja lapangan yang menuntut fisik, mental, dan ketahanan yang tinggi.
Patroli di Jantung Hutan
Setelah beristirahat di Desa Rian Tubu, tim melanjutkan perjalanan menuju titik patroli. Sekitar dua jam berjalan kaki, akhirnya tim memutuskan untuk mendirikan pondok sederhana di lokasi yang dinilai strategis, yaitu dekat dengan area kebun masyarakat dan sungai sebagai kebutuhan utama tim.
Selama lima hari lamanya, patroli dilakukan secara intensif di wilayah yang telah ditentukan. Tim menyusuri hutan dan melintasi sungai lagi dan lagi untuk memastikan kondisi kawasan tetap terjaga.Berbagai temuan menjadi indikator penting akan kesehatan ekosistem, di antaranya jejak Beruang Madu serta dugaan sarang Trenggiling dan Landak yang ditemukan oleh tim patroli.Selain itu, tim patroli juga melakukan pendataan vegetasi, mencatat keberadaan jenis dan melakukan pengukuran beberapa pohon seperti tengkawang, pelawan, kapur, keruing, dan meranti merah. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi kawasan TNKM masih relatif asri dan terjaga.

Ujian Alam di Penghujung Perjalanan
Menjelang akhir patroli, hujan deras mengguyur kawasan sekitar camp. Sungai di dekat lokasi pondok meluap, disertai suara benturan kayu-kayu yang hanyut, menciptakan suasana yang menegangkan.
Beruntung, air tidak sampai memasuki camp. Keesokan harinya, kondisi mulai membaik dan debit air berangsur surut, memungkinkan tim untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Belajar dari Keteguhan Warga Lokal
Dalam perjalanan kembali menuju Desa Koala Lapang, tim sempat bertemu dengan warga lokal yang tengah hendak juga melakukan perjalanan menuju Desa Koala Lapang. Pemandangan yang begitu membekas bagi tim patroli, yaitu saat melihat langsung seorang ibu yang berjalan kaki sambil menggendong anaknya, menempuh jarak sekitar 10 kilometer di medan yang tidak mudah.
Namun di tengah keterbatasan akses dan beratnya perjalanan, tidak tampak sedikitpun keluh di wajah mereka. Sebaliknya, tersirat keteguhan, ketulusan, dan penerimaan terhadap kehidupan yang dijalani. Kisah ini menjadi pengingat bahwa masyarakat lokal bukan hanya bagian dari kawasan, tetapi juga penjaga nilai dan warisan yang telah diwariskan turun-temurun.
Kolaborasi untuk Kelestarian
Pengalaman patroli ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Kolaborasi antara petugas dan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Melalui semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang diharapkan tetap lestari, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Narasi: Admin
Foto: Dok SPTN Wilayah II Mentarang Tubu
Tokyo, 31 Maret 2026 — Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Suzuki Norikazu. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden dalam rangka mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis bagi Pemerintah Jepang, khususnya di sektor kehutanan. MAFF menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung berbagai inisiatif pengelolaan hutan tropis Indonesia, terutama melalui proyek-proyek yang dikoordinasikan oleh JICA.
Sebagai bentuk konkret dukungan tersebut, pada April 2026 MAFF akan menugaskan dua tenaga ahli untuk mendukung pelaksanaan proyek JICA terkait pengelolaan mangrove berkelanjutan di Indonesia.
Selain itu, MAFF juga mengharapkan dukungan Kementerian Kehutanan dalam implementasi skema Joint Crediting Mechanism (JCM) di sektor kehutanan sebagai bagian dari upaya bersama dalam mitigasi perubahan iklim.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas hubungan kerja sama yang telah terjalin lama dan produktif antara Indonesia dan Jepang, khususnya melalui berbagai proyek JICA di sektor kehutanan. Menteri Kehutanan memandang kerja sama tersebut sebagai fondasi penting untuk memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan dan menjawab tantangan perubahan iklim global.
Lebih lanjut, Menteri Kehutanan mengajak MAFF untuk bersama-sama meningkatkan kualitas melalui proyek JICA, sebagai bagian dari penguatan inisiatif World Mangrove Center. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi jembatan global dalam upaya rehabilitasi, riset, edukasi, serta inovasi pengelolaan ekosistem mangrove, sekaligus menjadi rujukan internasional dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis alam.
Selain itu, Menteri Kehutanan juga mendorong keterlibatan sektor swasta Jepang untuk berinvestasi dalam ekonomi karbon di Indonesia, khususnya melalui kegiatan aforestasi dan reforestasi, termasuk di kawasan taman nasional. Hal ini sejalan dengan peluang implementasi Voluntary Carbon Market pasca terbitnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen kuat kedua negara untuk terus memperkuat kerja sama strategis di bidang kehutanan, sekaligus berkontribusi nyata dalam upaya global menghadapi perubahan iklim melalui solusi berbasis alam.
Repost : https://www.kehutanan.go.id/news/kemenhut-dan-maff-jepang-dorong-investasi-karbon-dan-pengelolaan-mangrove-berkelanjutan-1
Tokyo, 31 Maret 2026 — Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Ishihara Hirotaka, di Tokyo. Turut mendampingi Menteri Kehutanan dalam pertemuan tersebut, yakni Ristianto Pribadi selaku Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri, Ahmad Munawir selaku Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, serta Ima Yudin Rayaningtyas selaku Atase Kehutanan KBRI Tokyo.
Pertemuan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kerja sama strategis Indonesia–Jepang di bidang kehutanan, konservasi, dan pengendalian perubahan iklim.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jepang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kehutanan, atas penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Prefektur Shizuoka terkait perlindungan dan konservasi satwa liar. Kerja sama tersebut berfokus pada program breeding loan komodo sebagai bagian dari upaya pelestarian spesies ikonik Indonesia secara berkelanjutan.
Selain itu, Pemerintah Jepang juga mengapresiasi kunjungan delegasi Indonesia ke Fuji-Hakone-Izu National Park sebagai bagian dari pertukaran pengalaman pengelolaan taman nasional berstandar internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Jepang turut mengundang Indonesia untuk bergabung dalam Asia Protected Areas Partnership, sebuah jejaring kawasan lindung berfokus pada Taman Nasional di Asia yang saat ini telah melibatkan 17 negara.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerja sama erat Pemerintah Jepang dalam pengelolaan sektor kehutanan Indonesia. Ia menegaskan bahwa pertemuan bilateral ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam rangka mempererat hubungan bilateral kedua negara.
Lebih lanjut, Menteri Kehutanan mengusulkan pengembangan kerja sama Sister Park antara Fuji-Hakone-Izu National Park dengan taman nasional di Indonesia. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan tata kelola menuju pengembangan taman nasional berkelas dunia (World Class National Park).
Dalam konteks aksi iklim, Menteri Kehutanan juga mengundang sektor swasta Jepang untuk berpartisipasi dalam investasi karbon di Indonesia melalui kegiatan aforestasi dan reforestasi, termasuk di kawasan taman nasional. Peluang ini semakin terbuka dengan terbitnya kebijakan nasional terkait Nilai Ekonomi Karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Nasional, yang memungkinkan implementasi Voluntary Carbon Market secara lebih terstruktur dan kredibel.
Melalui pertemuan ini, Indonesia dan Jepang menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi di sektor kehutanan, sekaligus mendorong solusi inovatif berbasis alam untuk menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Repost : https://www.kehutanan.go.id/news/diplomasi-hijau-indonesia-jepang-menhut-dan-menteri-lh-jepang-dorong-sister-park-dan-investasi-karbon-di-taman-nasional