BTN Kayan Mentarang Perkuat Konservasi melalui Sinergi dengan Pemkab Nunukan

BTN Kayan Mentarang Perkuat Konservasi melalui Sinergi dengan Pemkab Nunukan

NUNUKAN – Upaya menjaga kelestarian kawasan menjadi fokus utama Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKМ) dalam memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan.

Kolaborasi dinilai penting untuk memastikan kawasan Taman Nasional tetap terjaga, sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan.Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan dan silaturahmi jajaran BTNKМ dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, diruang kerja Sekretaris Daerah Nunukan, Jumat (18/09/2026).

Pertemuan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas berbagai hal yang dapat dikolaborasikan dalam mendukung upaya konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

“Kami dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengucapkan terima kasih sudah diterima di Kabupaten Nunukan. dalam rangka silaturahmi dan koordinasi,” ujar Seno, Jumat (18/09/2026).

keberadaan dan kelestarian kawasan TNKM juga harus dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.

“Ada hal-hal yang perlu kita kolaborasikan, kita sinergikan, kita kerjasamakan dalam rangka tujuan yang sama, terutama terkait dengan kelestarian kawasan Taman Nasional dan juga terkait dengan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar,” katanya.

Seno menegaskan, komunikasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kawasan dapat dikelola secara bersama. Program pemerintah daerah yang berkaitan dengan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk membangun sinergi dengan kegiatan konservasi.

“Kami juga sangat mendukung program-program yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Nunukan terkait dengan masyarakat, yang bisa kita sinergikan dan komunikasikan,” ujarnya.

Dukungan terhadap upaya konservasi tersebut juga mendapat respons positif dari Pemkab Nunukan. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.A.P., mengatakan kelestarian alam memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai, penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan BTNKМ diperlukan agar upaya menjaga kawasan konservasi dapat dilakukan secara bersama dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Silaturahmi ini bisa meningkatkan sinergitas. Yang penting adalah pemerintah daerah dan Balai bersama-sama menjaga kelestarian alam, karena dampaknya juga kepada masyarakat,” kata Iwan.

Iwan juga mengapresiasi berbagai kegiatan BTNKМ yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian kawasan.

“Banyak aktivitas kegiatan dari Balai yang memang mengedepankan masyarakat. Kami berterima kasih dan mudah-mudahan ke depan sinergi kita semakin baik,” tuturnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya BTNKМ memperkuat jejaring konservasi di tingkat daerah. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang terus dibangun, pengelolaan kawasan diharapkan semakin efektif dalam menjaga kelestarian alam Kayan Mentarang.

Bagi BTNKМ, konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan, tetapi juga memastikan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan tetap menjadi bagian dari proses pengelolaan secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk jangka panjang. (*)

 

cr : SPTN I Long Bawan

Jaga Rumah Satwa dan Sumber Kehidupan, Balai TN Kayan Mentarang Perkuat Pencegahan Karhutla

Jaga Rumah Satwa dan Sumber Kehidupan, Balai TN Kayan Mentarang Perkuat Pencegahan Karhutla

MALINAU — Menjaga hutan dari kebakaran bukan hanya tentang melindungi pepohonan, tetapi juga menjaga rumah bagi satwa liar sekaligus sumber kehidupan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun.

Hal inilah yang menjadi perhatian Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau.

Secara umum, kebakaran dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), khususnya dalam skala besar, bukan merupakan kejadian yang umum.

Kondisi hutan yang masih relatif baik dengan kelembapan cukup tinggi menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.

Meski demikian, potensi risiko tetap perlu diwaspadai, berdasarkan pemantauan petugas, potensi kebakaran lebih banyak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan masyarakat di sekitar kawasan.

Sejauh ini, petugas menemukan dua titik kebakaran lahan di sekitar kawasan TNKM pada SPTN Wilayah I, kebakaran tersebut diketahui berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan.

 

Petugas kemudian segera melakukan penanganan di lapangan sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat agar penggunaan api dilakukan secara hati-hati dan terkendali.

Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan agar api tidak berkembang dan merembet menuju kawasan taman nasional.

Bagi Balai TNKM, menjaga kawasan dari karhutla berarti menjaga keberlangsungan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

Apabila kebakaran meluas, tutupan hutan primer maupun sekunder dapat mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, tetapi juga rusaknya tempat satwa berlindung, berkembang biak, dan mencari makanan.

Kerusakan vegetasi juga dapat mengganggu rantai makanan yang selama ini berjalan secara alami di dalam ekosistem hutan.

Satwa yang kehilangan habitat dan sumber makanan dapat terdorong berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam kondisi kebakaran yang lebih besar, satwa juga dapat menghadapi ancaman langsung.

Pergerakan mereka bisa terganggu oleh api, sementara kepungan asap pekat berpotensi mengganggu pernapasan.

Namun, apabila kebakaran masih berskala kecil dan tidak masuk jauh ke kawasan TNKM, dampaknya terhadap habitat satwa relatif dapat dibatasi. Karena itu, mencegah api sejak awal menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan menunggu kebakaran membesar.

Untuk mengantisipasi potensi karhutla, BTNKM terus melakukan pemantauan kondisi kawasan, terutama di lokasi yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.

Pemantauan titik panas dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi SiPongi dari Kementerian Kehutanan. Ketika ditemukan informasi mengenai titik panas, asap, atau indikasi kebakaran, petugas dapat melakukan pengecekan langsung ke lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Apabila ditemukan kebakaran yang berpotensi masuk ke kawasan TNKM, petugas juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Selain itu, posko-posko pengendalian dibentuk di tingkat resort untuk memperkuat pemantauan dan memudahkan respons apabila terjadi kebakaran.

Pendekatan yang dilakukan BTNKM tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi lebih mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.

Upaya menjaga TNKM tidak dapat dilakukan sendiri oleh petugas, masyarakat adat memiliki peran penting karena telah hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun dan memiliki pengetahuan lokal dalam mengelola lingkungan.

Dalam aktivitas perladangan, masyarakat juga mengenal berbagai cara untuk mengendalikan penggunaan api, termasuk pembuatan sekat bakar alami agar api tidak mudah menjalar.

Komunikasi dengan masyarakat desa penyangga terus diperkuat, masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika muncul asap atau api.

Karena itu, masyarakat bukan hanya menjadi penerima himbauan, tetapi juga bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.

Selama ini, *tidak terjadi* kebakaran besar di dalam kawasan yang menyebabkan satwa harus dievakuasi secara massal.

Pada dasarnya, satwa liar memiliki kemampuan alami untuk menghindari api dan berpindah menuju bagian habitat yang lebih aman. Karena itu, ketika kebakaran terjadi di sekitar kawasan, prioritas petugas adalah memastikan api tidak masuk dan menyebar ke habitat satwa di dalam TNKM.

Apabila suatu saat terjadi kebakaran besar dan ditemukan satwa yang terluka atau terjebak, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan serta dilakukan melalui koordinasi dengan pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan satwa liar.

Penanganan dapat meliputi evakuasi darurat bersama tim medis veteriner, tindakan medis apabila diperlukan, hingga penyediaan pangan darurat bagi satwa yang terdampak.

Namun, bagi BTNKM, upaya terbaik tetaplah mencegah satwa kehilangan habitatnya.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E, mengimbau masyarakat di sekitar kawasan agar selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas pembukaan lahan.

Ia mengatakan, pihaknya memahami bahwa berladang dan berkebun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan semata-mata melarang, tetapi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar penggunaan api tetap terkendali.

“Alhamdulillah, hingga saat ini tidak terjadi kebakaran di kawasan TNKM. Kami sangat berharap kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan. Jangan sampai letupan api kecil berkembang menjadi kebakaran luas yang merusak alam kita,” ujar Seno, Kamis (10/09/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini telah bersinergi dalam menjaga kelestarian TNKM.

“Kawasan TNKM adalah rumah bagi beragam satwa liar sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga agar aktivitas pembukaan lahan tidak merusak hutan” katanya.

Seno juga mengajak masyarakat untuk segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila melihat titik api yang berpotensi meluas ke kawasan TNKM.

“Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula kita dapat melakukan penanganan,” tambahnya.

Menjaga kawasan hutan dari karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah hutan terbakar. Lebih dari itu, setiap upaya pencegahan adalah bentuk kepedulian untuk mempertahankan rumah bagi satwa liar, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memastikan hutan tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dengan kolaborasi antara petugas, masyarakat adat, desa penyangga, dan para pemangku kepentingan, hutan TNKM diharapkan tetap lestari dan menjadi rumah yang aman bagi satwa serta sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Narasi: SPTN Wilayah I Long Bawan

MENJAGA BENTENG PERBATASAN: SINERGI SATGAS PAMTAS YONKAV 13/SL DAN TN KAYAN MENTARANG DI RESOR LUMBIS

MENJAGA BENTENG PERBATASAN: SINERGI SATGAS PAMTAS YONKAV 13/SL DAN TN KAYAN MENTARANG DI RESOR LUMBIS

NUNUKAN — Sinergi antara penjaga kedaulatan negara dan penjaga kelestarian lingkungan terus diperkuat di garis depan perbatasan Indonesia-Malaysia. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia Yonkav 13/Satya Lembu Ceta (SL) menggelar kunjungan kerja resmi ke Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).

Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan persepsi dan menguatkan koordinasi lapangan, khususnya terkait perlindungan serta pengamanan wilayah kerja Resor Lumbis yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Secara administratif, wilayah kerja Resor Lumbis ini masuk ke dalam area Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan.

Fokus Pengamanan dan Patroli Bersama Wilayah Resor Lumbis memiliki nilai geopolitik dan ekologis yang sangat tinggi. Selain menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah, kawasan ini menjadi salah satu titik rawan aktivitas ilegal lintas batas.

Beberapa poin utama kerja sama yang disepakati dalam pertemuan tersebut meliputi:

  • Pengawasan Lintas Batas:Mengintensifkan pemantauan terhadap patok batas negara dan aktivitas pergerakan ilegal di area hutan konservasi.
  • Pencegahan Illegal Logging & Perburuan Liar:Menggabungkan pemetaan intelijen dan keahlian navigasi darat untuk meminimalisir perusakan hutan serta perburuan satwa dilindungi.
  • Patroli Sinergis:Merencanakan patroli gabungan berkala antara prajurit Satgas Pamtas dan petugas Polhut/pengelola TNKM menyisir celah-celah rawan di sepanjang perbatasan Resor Lumbis.

Komitmen Menjaga Hutan Paru-Paru Dunia Perwakilan Satgas Pamtas Yonkav 13/SL menegaskan bahwa tugas pengamanan perbatasan tidak hanya berfokus pada ancaman fisik terhadap kedaulatan negara, tetapi juga mencakup perlindungan aset dan sumber daya alam nasional dari penjarahan.

Pihak SPTN Wilayah I Long Bawan menyambut positif kolaborasi ini. Dukungan personel dan pos-pos TNI di sepanjang perbatasan memberikan penguatan signifikan bagi petugas taman nasional yang menghadapi keterbatasan jangkauan di medan terisolasi.

Melalui sinergi erat ini, diharapkan keandalan keamanan serta kelestarian ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang tetap terjaga, menjadikan perbatasan Indonesia tidak hanya aman secara kedaulatan, tetapi juga lestari secara lingkungan.

 

cr : SPTN Wilayah I – Long Bawan

Kembali Eksis, Kucing Merah Kalimantan Terekam Kedua Kalinya di Wilayah Resor Mentarang Tubu

Kembali Eksis, Kucing Merah Kalimantan Terekam Kedua Kalinya di Wilayah Resor Mentarang Tubu

Malinau, September 2026. Belantara Borneo kembali mempersembahkan catatan berharga bagi dunia konservasi. Kucing Merah Kalimantan (Catopuma badia), karnivora endemik Pulau Kalimantan yang dikenal sangat elusif, kembali terdokumentasi di Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Satwa misterius yang bersatus terancam punah (Endangered) berhasil terekam melalui kamera pengintai (camera trap) di wilayah Resor Mentarang Tubu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Dokumentasi historis ini merupakan buah manis dari komitmen jangka panjang dalam perlindungan hutan. Setelah sempat menggemparkan lewat kemunculannya di Resor Sungai Bahau pada tahun 2023. Jauh sebelumnya, keberadaan spesies ini juga pernah tercatat di kawasan TNKM pada sekitar tahun 2003.

Rekaman terbaru di Resor Mentarang Tubu bermula dari pemasangan camera trap dalam kegiatan Patroli Perlindungan dan Pengamanan Kawasan TNKM di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, yang dilaksanakan oleh petugas SPTN Wilayah II Long Alango pada tahun 2025 lalu. Seluruh rangkaian operasional pemantauan satwa tersebut berjalan melalui sumber pendanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai TNKM dan PT Kayan Hydropower Nusantara (PT KHN).

Setelah terpasang selama berbulan-bulan di bawah rimbunnya kanopi hutan primer, data visual berharga ini akhirnya berhasil diunduh dan diambil pada tahun 2026 ini melalui kegiatan SMART Patrol yang dilaksanakan oleh petugas BTNKM di antaranya Jefry Frihardian Gumilar, Mahfu’at, Septian Adi Nugroho, Jatanai, dan Singga Pilipus di Wilayah Desa Rian Tubu, Resor Mentarang Tubu, SPTN Wilayah II Long Alango.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito menegaskan bahwa rekaman kucing merah tersebut menjadi informasi penting bagi pemantauan keanekaragaman hayati di Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.

“Spesies ini sangat sulit dijumpai secara langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan. Keberadaan kucing merah mengingatkan kita bahwa kawasan hutan TN Kayan Mentarang memiliki peran penting sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Karena itu, perlindungan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati harus terus dilakukan secara konsisten” jelas Seno.

Sementara itu, Kepala resor Mentarang Tubu, Mahfuat menyampaikan bahwa pemasangan camera trap merupakan bagian dari upaya petugas untuk memperoleh informasi mengenai satwa liar yang sulit diamati secara langsung di lapangan.

“Bagi petugas di lapangan, hasil ini menjadi penyemangat untuk terus melakukan patroli, pemantauan, dan menjaga kawasan. Rekaman ini menunjukkan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan di lapangan dapat memberikan informasi penting bagi pengelolaan kawasan dan perlindungan satwa liar” tambah Mahfuat.

Kucing Merah Kalimantan merupakan salah satu jenis kucing liar yang memiliki sebaran terbatas di Pulau Kalimantan. Karakteristiknya yang soliter, aktif pada waktu tertentu, serta cenderung menghindari keberadaan manusia membuat spesies ini jarang terlihat secara langsung.

Kembalinya sang “hantu hutan” ini menjadi momen krusial mengingat jenis ini sempat tidak menampakkan diri selama lebih dari 20 tahun di TNKM pasca-rekaman tahun 2003 silam. Keberhasilan pendokumentasian di dua resor berbeda—Resor Sungai Bahau (2023) dan Resor Mentarang Tubu (2026)—menjadi bioindikator absolut bahwa bentang alam hutan Kayan Mentarang masih sangat alami, sehat, dan aman bagi kelangsungan hidup predator-predator puncak terkecil Kalimantan.

Selain menjadi data bagi pengelolaan kawasan, keberadaan kucing merah juga menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dijaga. Hutan TNKM menyediakan habitat bagi beragam jenis satwa, termasuk spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi dan sulit ditemukan.

Bagi Balai TNKM, setiap rekaman satwa liar bukan sekadar dokumentasi, tetapi merupakan bagian dari rangkaian informasi yang mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Dari sebuah kamera yang bekerja dalam senyap di tengah hutan, tersimpan pesan penting tentang kehidupan yang masih berlangsung di dalamnya. Kucing merah yang melintas sejenak di depan kamera menjadi pengingat bahwa menjaga keutuhan hutan berarti menjaga ruang hidup bagi satwa liar dan mempertahankan keberlanjutan ekosistem TN Kayan Mentarang.

Repost : https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/artikel/kembali-eksis-kucing-merah-kalimantan-terekam-kedua-kalinya-di-wilayah-resor-mentarang-tubu-p6gK0OhH/

Tingkatkan Kapasitas Pemandu Wisata, Desa Apau Ping Perkuat Pengelolaan Ekowisata Berbasis Alam dan Budaya

Tingkatkan Kapasitas Pemandu Wisata, Desa Apau Ping Perkuat Pengelolaan Ekowisata Berbasis Alam dan Budaya

Apau Ping, Kalimantan Utara — Upaya pengembangan ekowisata di Desa Apau Ping terus diperkuat melalui kegiatan peningkatan kapasitas pemandu wisata dibimbing langsung oleh instruktur ekowisata berpengalaman dari BTN. Kutai (Tri Wijaya, S.Hut) melalui sesi materi kelas dan praktik lapangan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masyarakat lokal agar mampu memberikan pelayanan wisata yang aman, informatif, komunikatif, sekaligus tetap berpegang pada prinsip konservasi alam dan pelestarian budaya.

Pelatihan pemandu wisata di Desa Apau Ping membekali peserta dengan berbagai materi, mulai dari pelayanan prima dan bahasa Inggris pariwisata, teknik menangani keluhan wisatawan, storytelling ekowisata, keselamatan dan nature briefing, hingga pengelolaan wisata pengamatan satwa.

Selain pelayanan, pelatihan memberikan perhatian khusus terhadap kemampuan storytelling. Pemandu didorong untuk berkembang dari sekadar “penunjuk jalan” menjadi seorang pencerita yang mampu menghubungkan wisatawan dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat. Cerita mengenai sejarah desa, filosofi motif dan ukiran Dayak, kearifan lokal Tana’ Olen, Sungai Bahau, satwa liar, tumbuhan khas, padang savana Long Tua hingga peninggalan leluhur dapat menjadi kekuatan interpretasi yang membedakan pengalaman wisata di Apau Ping.

Melalui pendekatan storytelling, pemandu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pengalaman yang lebih bermakna bagi wisatawan. Peserta diperkenalkan dengan teknik menemukan hook atau pembuka cerita yang menarik, membangun alur cerita, serta mengajak wisatawan merasakan suasana alam melalui pendekatan sensory storytelling.

Penguatan kapasitas juga diperkaya dengan pembelajaran dari pengelolaan wisata pengamatan orangutan di Prevab, Taman Nasional Kutai. Studi pembelajaran tersebut menekankan pentingnya pemandu lokal yang memahami ekologi hutan, navigasi lapangan, keselamatan, etika konservasi, serta kemampuan mengelola alur perjalanan wisata. Dalam konteks Apau Ping, pendekatan tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam mengembangkan wisata berbasis keanekaragaman hayati Taman Nasional Kayan Mentarang yang dipadukan dengan kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Dayak Kenyah.

Bagi Desa Apau Ping, pengembangan wisata tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan pengalaman bagi wisatawan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dan sosial tetap sejalan dengan upaya konservasi. Potensi keanekaragaman hayati Taman Nasional Kayan Mentarang dapat dikembangkan bersama dengan situs sejarah kuburan batu, budaya Dayak Kenyah, serta pengalaman kehidupan masyarakat lokal.

Dengan semakin terampilnya pemandu lokal dalam pelayanan, komunikasi, storytelling, keselamatan, serta interpretasi alam dan budaya, Desa Apau Ping diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ekowisata yang berkualitas. Lebih dari sekadar menikmati keindahan alam, wisatawan diharapkan dapat memahami nilai konservasi, mengenal kearifan budaya masyarakat Dayak Kenyah, dan turut menjadi bagian dari upaya menjaga alam dan budaya di kawasan Kayan Mentarang.

Persiapan Personel BKO Karhutla, Balai TN Kayan Mentarang Bekali Personel dengan Pengetahuan dan Keterampilan Pengendalian Kebakaran

Malinau, 2 September 2026 — Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas personel dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melaksanakan rangkaian pembekalan dan pelatihan bagi personel yang dipersiapkan untuk melaksanakan Bantuan Kendali Operasi (BKO) penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Kegiatan dimulai pada 1 September 2026 dengan pembekalan materi dasar pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Dalam sesi ini, pegawai Balai TN Kayan Mentarang mendapatkan pemahaman mengenai prinsip dasar kebakaran, faktor penyebab dan penyebaran api, teknik pengendalian kebakaran, pengenalan peralatan serta prosedur keselamatan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Pembekalan juga menjadi kesempatan bagi pegawai Balai TN Kayan Mentarang untuk memahami pentingnya koordinasi dan kerja sama tim dalam penanganan karhutla. Pengetahuan dasar tersebut menjadi bekal penting sebelum personel terjun langsung dalam kegiatan pengendalian kebakaran di lapangan, mengingat kondisi dan karakteristik kebakaran hutan dan lahan dapat berbeda pada setiap lokasi.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan yang berfokus pada pengenalan peralatan pemadaman dan teknik penggunaannya. Personel diperkenalkan dengan berbagai jenis peralatan yang digunakan dalam penanggulangan karhutla, sekaligus diberikan pemahaman mengenai fungsi, cara penggunaan, dan pemeliharaan peralatan agar dapat digunakan secara efektif dan aman.

Selain pengenalan alat, personel juga melaksanakan praktik pemadaman kebakaran. Melalui kegiatan praktik ini, personel dilatih untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya, mulai dari penanganan api hingga penerapan teknik pemadaman secara bersama-sama dalam satu tim.

Rangkaian pembekalan dan praktik tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan, keterampilan, kedisiplinan, serta kemampuan personel dalam merespons kejadian karhutla. Kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara cepat, tepat, dan mengutamakan keselamatan.

Melalui persiapan yang matang, personel BKO diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional dan responsif dalam mendukung upaya pengendalian karhutla serta menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Siaga sebelum api membesar, sigap saat api muncul, bersama menjaga hutan Indonesia.