Inventarisasi Herpetofauna di Sungai Tua, Tim Patroli Temukan Beragam Jenis Amfibi

Inventarisasi Herpetofauna di Sungai Tua, Tim Patroli Temukan Beragam Jenis Amfibi

Long Alango – Dalam rangka mendukung kegiatan patroli penjagaan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang, tim patroli Resor Sungai Bahau turut melaksanakan inventarisasi herpetofauna di kawasan Sungai Tua, Desa Apau Ping, pada 15 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemantauan keanekaragaman hayati sekaligus pengumpulan data biodiversitas di kawasan konservasi TN Kayan Mentarang.

Pengamatan dilakukan pada habitat riparian atau kawasan tepian sungai dengan metode Visual Encounter Survey (VES) dengan panjang transek 500 meter. Kegiatan dilaksanakan pada malam hari mulai pukul 20.00 hingga 20.45 WITA dalam kondisi cuaca cerah, dengan suhu udara tercatat 26°C dan kelembapan mencapai 86,7% RH.

Selama kegiatan inventarisasi, tim berhasil mendokumentasikan berbagai jenis amfibi yang dijumpai pada beberapa mikrohabitat seperti bebatuan sungai, serasah daun, tanah tepi sungai, hingga daun di sekitar aliran sungai. Beberapa jenis yang tercatat antara lain Katak Bertaring (Limnonectes sp.), Kodok Sawah (Fejervarya cancrivora), Katak Sungai Raksasa (Limnonectes leporinus), Bangkong Kolong (Duttaphrynus melanostictus), serta Kodok Buduk Raksasa (Phrynoidis juxtasper).

Kodok Buduk Raksasa (Phrynoidis juxtasper)

Katak Sungai Raksasa (Limnonectes leporinus)

Dari seluruh jenis yang ditemukan, Katak Sungai Raksasa (Limnonectes leporinus) menjadi spesies yang paling sering dijumpai selama pengamatan berlangsung. Kehadiran berbagai jenis amfibi tersebut menunjukkan kondisi ekosistem riparian Sungai Tua masih berada dalam kondisi baik dan mampu mendukung kehidupan satwa liar, khususnya kelompok herpetofauna yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan.

Inventarisasi herpetofauna ini juga menjadi bagian penting dalam mendukung database keanekaragaman hayati TN Kayan Mentarang sekaligus memperkuat kegiatan monitoring kawasan berbasis ilmiah. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bahan pendukung dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan, terutama dalam menjaga kelestarian habitat alami satwa liar di wilayah pedalaman Kalimantan Utara.

Foto : Zulkifli Mujahid S

Editor : Humas Tanakame

Patroli TN Kayan Mentarang di Long Tua, Tim Temukan Beragam Jejak Satwa Liar

Patroli TN Kayan Mentarang di Long Tua, Tim Temukan Beragam Jejak Satwa Liar

Long Alango – Kegiatan patroli penjagaan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang di wilayah Long Tua, Resor Sungai Bahau, SPTN Wilayah II Long Alango berhasil dilaksanakan selama 15 hari kalender, terhitung sejak 09 hingga 23 Mei 2026. Kegiatan ini melibatkan 2 personel Resor Sungai Bahau bersama 2 masyarakat Desa Apau Ping dengan target patroli pada Grid 1597 dan 1598 yang berada di Zona Tradisional dan Zona Khusus kawasan taman nasional.

Patroli dilaksanakan menggunakan metode SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tools), yaitu sistem patroli berbasis data yang mendukung pencatatan serta dokumentasi temuan secara sistematis. Melalui metode ini, setiap aktivitas dan kondisi kawasan dapat dipantau secara lebih efektif guna mendukung perlindungan kawasan konservasi dan analisis data lapangan.

Selama pelaksanaan patroli, tim melakukan pengamatan terhadap aktivitas manusia, keberadaan satwa liar, inventarisasi tumbuhan, fitur alami kawasan, hingga pemeriksaan kondisi jalur patroli. Selain itu, pada setiap grid target juga dilakukan inventarisasi tumbuhan menggunakan metode kuarter atau kuadran.

Berdasarkan hasil patroli, kondisi kawasan TN Kayan Mentarang khususnya pada Grid 1597 dan 1598 dilaporkan dalam keadaan aman dan terkendali. Tim patroli tidak menemukan adanya indikasi maupun aktivitas tindak pidana kehutanan selama kegiatan berlangsung.

Meski demikian, tim berhasil mendokumentasikan berbagai tanda keberadaan satwa liar yang menunjukkan kondisi habitat masih terjaga dengan baik. Beberapa temuan tersebut antara lain bekas kaisan Landak (Hystrix sp.), jejak Rusa sambar (Rusa unicolor), bekas makan Tupai (Tupaia sp.), serta perjumpaan langsung, jejak, suara, dan kaisan Kijang muncak (Muntiacus muntjak). Tim juga menemukan bekas cakaran Beruang madu (Helarctos malayanus), bulu Julang emas (Rhyticeros undulatus), serta mendengar suara Owa-owa (Hylobates funereus) di beberapa titik pengamatan.

Selain satwa liar, tim turut mencatat keberadaan sejumlah jenis tumbuhan penting khas hutan Kalimantan, di antaranya Pohon Benuang (Octomeles sp.), Pohon Gaharu (Aquilaria malaccensis), dan Pohon Meranti (Shorea sp.).

Di sela kegiatan patroli kawasan, tim juga melaksanakan penjagaan pos di wilayah Long Tua. Sejumlah kegiatan pendukung turut dilakukan, seperti inventarisasi herpetofauna di Sungai Tua, pemasangan camera trap, pembersihan dan pemeliharaan jalur tracking, pemeliharaan area Pondok Ekowisata, hingga pembinaan habitat di Blok A Padang Savana Long Tua.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian kawasan TN Kayan Mentarang sekaligus memperkuat sinergi antara petugas taman nasional dan masyarakat sekitar dalam melindungi keanekaragaman hayati Kalimantan Utara.

Narasi : Zulkifli Mujahid S

Foto : SPTN Wilayah II Long Alango

Editor : Humas Tanakame

Wisatawan Belanda Susuri Jalur Tracking dari Long Tua menuju Long Layu

Wisatawan Belanda Susuri Jalur Tracking dari Long Tua menuju Long Layu

Malinau – Minggu (17/5) dua wisatawan mancanegara asal Belanda, Two Old Farts disebutnya, melakukan perjalanan tracking melintasi kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang dari Long Tua menuju Long Layu, Krayan Selatan.

Perjalanan dimulai dari Amsterdam, Belanda menuju Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Tarakan, Tanjung Selor, Long Aran, Long Alango, hingga Apau Ping sebelum memasuki jalur tracking di kawasan pedalaman Kalimantan Utara.

Diskusi Singkat di Pondok Ekowisata Long Tua

Sebelum memulai tracking selama kurang lebih 5 (lima) hari, wisatawan berhenti sejenak di Pondok Ekowisata Long Tua untuk mengurus tiket masuk kawasan.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk wisata alam minat khusus yang menawarkan pengalaman menjelajahi hutan tropis Kalimantan sekaligus mengenal kehidupan masyarakat adat di sekitar kawasan TN Kayan Mentarang.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan melewati jalur hutan alami, sungai, serta wilayah perkampungan yang masih mempertahankan budaya dan kearifan lokal. Kawasan TN Kayan Mentarang sendiri dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi salah satu bentang alam hutan tropis penting di Pulau Kalimantan.

Selain menikmati keindahan alam, perjalanan tracking ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat secara berkelanjutan di wilayah TN Kayan Mentarang.  Balai TN Kayan Mentarang terus mendorong pengembangan wisata alam yang tetap memperhatikan prinsip konservasi serta pelestarian budaya lokal sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan.

Menjaga Savana, Merawat Rumah Sang Penjaga

Menjaga Savana, Merawat Rumah Sang Penjaga

Di bagian paling sunyi hutan Kalimantan Utara, terdapat sebuah wilayah yang tidak pernah tercatat dalam peta penjelajahan ataupun hiruk-pikuk peradaban. Tempat itu bernama Padang Savana Long Tua. Sebuah bentang alam yang terasa begitu berbeda di tengah lebatnya hutan hujan Kalimantan.

Hamparan savana luas membentang menguning seperti lautan emas. Kabut tipis menggantung setiap pagi, sementara malam dipenuhi suara satwa liar yang saling bersahutan, seolah menyanyikan lagu alam yang tak pernah berhenti. Namun, bukan hanya savananya yang membuat tempat ini istimewa. Di sanalah hidup seekor banteng Kalimantan yang gagah dan perkasa, satwa liar yang telah menjaga kawasan itu selama puluhan tahun.

Masyarakat Dayak Kenyah menyebutnya “Kelesiau”, sementara dunia mengenalnya sebagai Bos javanicus lowi atau Banteng Kalimantan. Ini bukan dongeng, bukan pula cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semua ini nyata, hidup, dan masih dapat ditemukan di lapangan hingga hari ini.

Pada tanggal 22 April hingga 6 Mei 2026, tim patroli kawasan dari Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah II Long Alango melaksanakan kegiatan patroli dan penjagaan kawasan di Long Tua. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi kawanan banteng Kalimantan. Tim patroli terdiri dari dua personel TNKM dan dua masyarakat desa penyangga yang bersama-sama menjalankan tugas konservasi di wilayah tersebut.

Melalui arahan Kepala Resor Sungai Bahau, kegiatan difokuskan pada pembinaan habitat banteng Kalimantan di Padang Savana Long Tua. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen TNKM dalam menjaga kelestarian habitat dan keberlangsungan hidup satwa liar di kawasan konservasi.

Kegiatan pembinaan habitat dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemotongan rumput tua menggunakan mesin rumput agar tunas-tunas muda dapat tumbuh kembali menghijau. Selain itu, dilakukan pula pembakaran terkendali pada sebagian area savana dengan pengawasan ketat agar api tidak merambat keluar kawasan. Setelah proses tersebut, rumput-rumput muda akan kembali tumbuh segar dan menjadi sumber pakan alami yang sangat disukai banteng Kalimantan.

Tidak hanya banteng, kawasan ini juga menjadi tempat hidup berbagai satwa herbivora lainnya seperti kijang, payau, babi hutan, dan pelanduk. Kehidupan liar di savana Long Tua menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting sebagai sumber pakan dan ruang hidup satwa-satwa hutan.

Dalam kegiatan patroli, tim juga melakukan pengambilan data dari kamera jebak (camera trap) yang telah dipasang sebelumnya. Dari hasil dokumentasi tersebut, terlihat beberapa foto dan video kawanan banteng yang sedang menikmati rumput muda hasil pembinaan habitat yang telah dilakukan. Momen itu menjadi bukti bahwa upaya kecil yang dilakukan dengan kesungguhan mampu memberi manfaat nyata bagi keberlangsungan satwa liar.

Karena itu, kegiatan pemeliharaan habitat di Padang Savana Long Tua perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar kawanan banteng dan satwa herbivora lainnya tidak keluar kawasan untuk mencari pakan. Menjaga dan merawat rumah sang penjaga savana bukan hanya tugas petugas konservasi, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar habitat ini tetap lestari dan kehidupan liar di dalamnya terus terjaga.

“Rumah sang penjaga savana bukan sekadar tempat, melainkan warisan ketulusan yang dijaga dengan cinta. Merawatnya berarti menghormati alam, menjaga kenangan, dan meneruskan nilai kehidupan bagi generasi yang akan datang.”

Salam cinta, salam juang, karena cinta kita berjuang. Salam konservasi.

Narasi : Irfan Andika

Foto : SPTN Wilayah II Long Alango

Kemenhut dan MAFF Jepang Dorong Investasi Karbon dan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan

Kemenhut dan MAFF Jepang Dorong Investasi Karbon dan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan

Tokyo, 31 Maret 2026 — Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Suzuki Norikazu. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden dalam rangka mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis bagi Pemerintah Jepang, khususnya di sektor kehutanan. MAFF menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung berbagai inisiatif pengelolaan hutan tropis Indonesia, terutama melalui proyek-proyek yang dikoordinasikan oleh JICA.

Sebagai bentuk konkret dukungan tersebut, pada April 2026 MAFF akan menugaskan dua tenaga ahli untuk mendukung pelaksanaan proyek JICA terkait pengelolaan mangrove berkelanjutan di Indonesia.

Selain itu, MAFF juga mengharapkan dukungan Kementerian Kehutanan dalam implementasi skema Joint Crediting Mechanism (JCM) di sektor kehutanan sebagai bagian dari upaya bersama dalam mitigasi perubahan iklim.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas hubungan kerja sama yang telah terjalin lama dan produktif antara Indonesia dan Jepang, khususnya melalui berbagai proyek JICA di sektor kehutanan. Menteri Kehutanan memandang kerja sama tersebut sebagai fondasi penting untuk memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan dan menjawab tantangan perubahan iklim global.

Lebih lanjut, Menteri Kehutanan mengajak MAFF untuk bersama-sama meningkatkan kualitas melalui proyek JICA, sebagai bagian dari penguatan inisiatif World Mangrove Center. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi jembatan global dalam upaya rehabilitasi, riset, edukasi, serta inovasi pengelolaan ekosistem mangrove, sekaligus menjadi rujukan internasional dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis alam.

Selain itu, Menteri Kehutanan juga mendorong keterlibatan sektor swasta Jepang untuk berinvestasi dalam ekonomi karbon di Indonesia, khususnya melalui kegiatan aforestasi dan reforestasi, termasuk di kawasan taman nasional. Hal ini sejalan dengan peluang implementasi Voluntary Carbon Market pasca terbitnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.

Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen kuat kedua negara untuk terus memperkuat kerja sama strategis di bidang kehutanan, sekaligus berkontribusi nyata dalam upaya global menghadapi perubahan iklim melalui solusi berbasis alam.

Repost : https://www.kehutanan.go.id/news/kemenhut-dan-maff-jepang-dorong-investasi-karbon-dan-pengelolaan-mangrove-berkelanjutan-1