oleh vincentius tito | Sep 26, 2026 | Berita
MALINAU — Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengamanan Kawasan bekerja sama dengan Kodim 0910/Malinau.
Kegiatan yang berlangsung pada 23–24 September 2026 di Malinau, Kalimantan Utara, ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme petugas dalam melaksanakan tugas pengamanan kawasan konservasi.
Kegiatan tersebut diikuti personel Polisi Kehutanan (Polhut), pimpinan dan jajaran Balai TNKM, serta kepala resort.
Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari personel Kodim 0910/Malinau sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan sinergi antarlembaga dalam mendukung pengamanan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi bagian penting untuk memastikan petugas memiliki kesiapan dan kemampuan yang memadai dalam menjalankan tugas di lapangan.
Salah satu materi dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan penggunaan senjata api sebagai sarana pendukung tugas pengamanan kawasan.
“Senjata api ini memang kita perlukan untuk kegiatan pengamanan. Karena itu, personel harus menguasai penggunaannya, termasuk pemeliharaan dan pemahaman terhadap prosedur yang berlaku. Kegiatan ini kita laksanakan untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan petugas dalam mendukung tugas pengamanan kawasan,” ujar Seno, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, kegiatan tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis, tetapi juga menekankan pentingnya kedisiplinan, kehati-hatian, serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan tugas.
“Harapannya, petugas Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengetahui dan memahami penggunaan senjata api, baik dari sisi pemeliharaan maupun penggunaannya. Dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan SOP yang telah disusun dan tentunya mengutamakan kehati-hatian,” jelasnya.

Seno menambahkan, kolaborasi dengan Kodim 0910/Malinau menjadi bagian dari upaya membangun sinergi dalam peningkatan kapasitas personel. Kemampuan petugas, kata dia, perlu terus diasah agar dapat mendukung pelaksanaan tugas pengamanan di kawasan TNKM yang memiliki wilayah luas dengan karakteristik medan yang beragam.
Komandan Koramil Malinau Selatan sekaligus Plt. Perwira Seksi Intelijen Kodim 0910/Malinau, Kapten Inf. Heri Agus Sijantoro, mengatakan pihaknya mendapat amanah untuk memberikan pendampingan kepada personel BTNKM dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kami dari Kodim 0910/Malinau mendapat perintah dari Komandan Kodim untuk membantu rekan-rekan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dalam pelaksanaan latihan. Pelatihan merupakan bagian penting untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan personel dalam mendukung tugas yang diberikan oleh negara,” kata Heri, Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, pendampingan diberikan melalui pembekalan materi dan latihan yang dilaksanakan secara bertahap, setelah mendapatkan materi dasar di lingkungan kantor BTNKM, peserta kemudian mengikuti praktik di lapangan tembak Kodim 0910/Malinau.
“Kami memberikan pendampingan mulai dari materi di ruangan, termasuk pengenalan dan dasar-dasar latihan, kemudian dilanjutkan dengan praktik di lapangan tembak. Rekan-rekan dari Polisi Kehutanan sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.
Heri berharap kolaborasi antara Kodim 0910/Malinau dan Balai TNKM dapat terus terjalin dengan baik, khususnya dalam mendukung peningkatan kemampuan personel yang memiliki tugas pengamanan kawasan.
“Kami berharap kolaborasi latihan ini dapat berjalan dengan baik, lancar dan aman. Jangan patah semangat dengan hasil yang diperoleh hari ini. Karena ini merupakan bagian dari proses, yang terpenting adalah terus berlatih sehingga kemampuan dapat semakin meningkat dan tugas pokok serta fungsi dapat dilaksanakan dengan baik dan profesional,” pesannya.
Sementara itu, Polhut Wanita Balai TNKM, Marlinda Octavia, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi dirinya dan para peserta, khususnya dalam mengikuti latihan yang berkaitan dengan peningkatan kesiapan pengamanan.
“Saya bersyukur bisa mengikuti kegiatan latihan ini. Ini merupakan pengalaman pertama yang saya ikuti. Semoga kegiatan seperti ini ke depannya dapat terus berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi kami sebagai petugas,” ungkap Marlinda.
Ia juga berharap kegiatan bersama tersebut dapat semakin memperkuat kekompakan internal personel Balai TNKM.
“Harapan saya, ke depannya Polhut Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bisa semakin kompak dan semakin siap dalam melaksanakan tugas,” tambahnya.
Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, panitia dan instruktur juga memberikan apresiasi kepada peserta dengan hasil penilaian terbaik selama latihan.
Juara pertama diraih Rolly Janter dari Balai TNKM, disusul Jatanai dari SPTN Wilayah II sebagai juara kedua, dan Septian Adi Nugroho dari Balai TNKM sebagai juara ketiga.
Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi dan capaian peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan, sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan kemampuan melalui latihan secara berkelanjutan.
Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari komitmen Balai TNKM dalam memperkuat sumber daya manusia sebagai salah satu unsur penting dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Dengan dukungan dan sinergi bersama berbagai pihak, peningkatan kemampuan personel diharapkan dapat menunjang pelaksanaan tugas pengamanan secara profesional, disiplin dan sesuai ketentuan.
Melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi antarlembaga, Balai TNKM terus mendorong kesiapan petugas dalam menjaga Taman Nasional Kayan Mentarang, sekaligus mendukung upaya perlindungan ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari kawasan konservasi tersebut. (*)
oleh vincentius tito | Sep 20, 2026 | Berita
SUMATERA SELATAN – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sekitar Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan terus diperkuat untuk mencegah api mendekati kawasan konservasi dan mengancam habitat Gajah Sumatra.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melakukan peninjauan langsung ke Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21, SM Padang Sugihan, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi penanganan Karhutla sekaligus memastikan kondisi gajah yang berada di kawasan konservasi tersebut.
SM Padang Sugihan merupakan salah satu kawasan penting bagi Gajah Sumatra di Sumatera Selatan. Di PKG Jalur 21 terdapat 29 ekor gajah jinak yang terdiri atas 13 jantan dan 16 betina. Selain itu, populasi gajah liar di lanskap Padang Sugihan diperkirakan mencapai sekitar 130 ekor.
Berdasarkan hasil pemantauan, 29 gajah yang berada di PKG Jalur 21 dalam kondisi baik dan belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap Karhutla. Kondisi tersebut terus menjadi perhatian seiring dengan upaya pengendalian kebakaran yang dilakukan di sekitar kawasan.
Penanganan Karhutla dilakukan dengan memperkuat personel di lapangan untuk mencegah api mendekati kawasan SM Padang Sugihan. Petugas juga telah membangun sekat bakar sebagai salah satu upaya menghambat pergerakan api menuju kawasan konservasi.
Selain pemadaman dari darat, penanganan juga didukung melalui pengerahan helikopter untuk operasi water bombing. Tim gabungan yang terdiri atas Manggala Agni, TNI, Polri, serta masyarakat turut terlibat dalam upaya pemadaman dan pengendalian api di lapangan.
Karena kawasan berada pada lanskap lahan gambut, penanganan dilakukan secara intensif untuk mencegah api kembali muncul setelah pemadaman. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BMKG untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memanfaatkan potensi hujan dalam membantu proses pemadaman.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pengendalian Karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dengan perlindungan satwa liar yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati Indonesia.
“Untuk kita berjuang memadamkan api itu penting, tapi tak kalah penting adalah memproteksi satwa liar kita yang merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus kita proteksi secara bersama-sama,” ujarnya.
Upaya perlindungan Gajah Sumatra di SM Padang Sugihan menunjukkan bahwa penanganan Karhutla perlu dilakukan secara terpadu. Pengendalian api, perlindungan kawasan, serta pemantauan kondisi satwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
Karhutla bukan hanya mengancam tutupan hutan dan lahan, tetapi juga dapat berdampak terhadap habitat serta kehidupan satwa liar di dalamnya. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak menjadi penting untuk memastikan kawasan konservasi tetap terlindungi dan satwa liar dapat terus hidup di habitat alaminya.
oleh vincentius tito | Sep 18, 2026 | Berita
NUNUKAN – Upaya menjaga kelestarian kawasan menjadi fokus utama Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKМ) dalam memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Kolaborasi dinilai penting untuk memastikan kawasan Taman Nasional tetap terjaga, sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan.Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan dan silaturahmi jajaran BTNKМ dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, diruang kerja Sekretaris Daerah Nunukan, Jumat (18/09/2026).
Pertemuan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas berbagai hal yang dapat dikolaborasikan dalam mendukung upaya konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
“Kami dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengucapkan terima kasih sudah diterima di Kabupaten Nunukan. dalam rangka silaturahmi dan koordinasi,” ujar Seno, Jumat (18/09/2026).
keberadaan dan kelestarian kawasan TNKM juga harus dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Ada hal-hal yang perlu kita kolaborasikan, kita sinergikan, kita kerjasamakan dalam rangka tujuan yang sama, terutama terkait dengan kelestarian kawasan Taman Nasional dan juga terkait dengan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar,” katanya.
Seno menegaskan, komunikasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kawasan dapat dikelola secara bersama. Program pemerintah daerah yang berkaitan dengan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk membangun sinergi dengan kegiatan konservasi.
“Kami juga sangat mendukung program-program yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Nunukan terkait dengan masyarakat, yang bisa kita sinergikan dan komunikasikan,” ujarnya.
Dukungan terhadap upaya konservasi tersebut juga mendapat respons positif dari Pemkab Nunukan. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.A.P., mengatakan kelestarian alam memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai, penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan BTNKМ diperlukan agar upaya menjaga kawasan konservasi dapat dilakukan secara bersama dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Silaturahmi ini bisa meningkatkan sinergitas. Yang penting adalah pemerintah daerah dan Balai bersama-sama menjaga kelestarian alam, karena dampaknya juga kepada masyarakat,” kata Iwan.
Iwan juga mengapresiasi berbagai kegiatan BTNKМ yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian kawasan.
“Banyak aktivitas kegiatan dari Balai yang memang mengedepankan masyarakat. Kami berterima kasih dan mudah-mudahan ke depan sinergi kita semakin baik,” tuturnya.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya BTNKМ memperkuat jejaring konservasi di tingkat daerah. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang terus dibangun, pengelolaan kawasan diharapkan semakin efektif dalam menjaga kelestarian alam Kayan Mentarang.
Bagi BTNKМ, konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan, tetapi juga memastikan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan tetap menjadi bagian dari proses pengelolaan secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk jangka panjang. (*)

cr : SPTN I Long Bawan
oleh Shinta Dewi Marcelina | Sep 10, 2026 | Berita, Pengamanan & Perlindungan Kawasan
MALINAU — Menjaga hutan dari kebakaran bukan hanya tentang melindungi pepohonan, tetapi juga menjaga rumah bagi satwa liar sekaligus sumber kehidupan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun.
Hal inilah yang menjadi perhatian Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau.
Secara umum, kebakaran dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), khususnya dalam skala besar, bukan merupakan kejadian yang umum.
Kondisi hutan yang masih relatif baik dengan kelembapan cukup tinggi menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.
Meski demikian, potensi risiko tetap perlu diwaspadai, berdasarkan pemantauan petugas, potensi kebakaran lebih banyak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan masyarakat di sekitar kawasan.
Sejauh ini, petugas menemukan dua titik kebakaran lahan di sekitar kawasan TNKM pada SPTN Wilayah I, kebakaran tersebut diketahui berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan.

Petugas kemudian segera melakukan penanganan di lapangan sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat agar penggunaan api dilakukan secara hati-hati dan terkendali.
Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan agar api tidak berkembang dan merembet menuju kawasan taman nasional.
Bagi Balai TNKM, menjaga kawasan dari karhutla berarti menjaga keberlangsungan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Apabila kebakaran meluas, tutupan hutan primer maupun sekunder dapat mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, tetapi juga rusaknya tempat satwa berlindung, berkembang biak, dan mencari makanan.
Kerusakan vegetasi juga dapat mengganggu rantai makanan yang selama ini berjalan secara alami di dalam ekosistem hutan.
Satwa yang kehilangan habitat dan sumber makanan dapat terdorong berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat yang lebih aman.
Dalam kondisi kebakaran yang lebih besar, satwa juga dapat menghadapi ancaman langsung.
Pergerakan mereka bisa terganggu oleh api, sementara kepungan asap pekat berpotensi mengganggu pernapasan.
Namun, apabila kebakaran masih berskala kecil dan tidak masuk jauh ke kawasan TNKM, dampaknya terhadap habitat satwa relatif dapat dibatasi. Karena itu, mencegah api sejak awal menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan menunggu kebakaran membesar.

Untuk mengantisipasi potensi karhutla, BTNKM terus melakukan pemantauan kondisi kawasan, terutama di lokasi yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Pemantauan titik panas dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi SiPongi dari Kementerian Kehutanan. Ketika ditemukan informasi mengenai titik panas, asap, atau indikasi kebakaran, petugas dapat melakukan pengecekan langsung ke lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Apabila ditemukan kebakaran yang berpotensi masuk ke kawasan TNKM, petugas juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
Selain itu, posko-posko pengendalian dibentuk di tingkat resort untuk memperkuat pemantauan dan memudahkan respons apabila terjadi kebakaran.
Pendekatan yang dilakukan BTNKM tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi lebih mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.
Upaya menjaga TNKM tidak dapat dilakukan sendiri oleh petugas, masyarakat adat memiliki peran penting karena telah hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun dan memiliki pengetahuan lokal dalam mengelola lingkungan.
Dalam aktivitas perladangan, masyarakat juga mengenal berbagai cara untuk mengendalikan penggunaan api, termasuk pembuatan sekat bakar alami agar api tidak mudah menjalar.
Komunikasi dengan masyarakat desa penyangga terus diperkuat, masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika muncul asap atau api.

Karena itu, masyarakat bukan hanya menjadi penerima himbauan, tetapi juga bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.
Selama ini, *tidak terjadi* kebakaran besar di dalam kawasan yang menyebabkan satwa harus dievakuasi secara massal.
Pada dasarnya, satwa liar memiliki kemampuan alami untuk menghindari api dan berpindah menuju bagian habitat yang lebih aman. Karena itu, ketika kebakaran terjadi di sekitar kawasan, prioritas petugas adalah memastikan api tidak masuk dan menyebar ke habitat satwa di dalam TNKM.
Apabila suatu saat terjadi kebakaran besar dan ditemukan satwa yang terluka atau terjebak, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan serta dilakukan melalui koordinasi dengan pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan satwa liar.
Penanganan dapat meliputi evakuasi darurat bersama tim medis veteriner, tindakan medis apabila diperlukan, hingga penyediaan pangan darurat bagi satwa yang terdampak.
Namun, bagi BTNKM, upaya terbaik tetaplah mencegah satwa kehilangan habitatnya.
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E, mengimbau masyarakat di sekitar kawasan agar selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas pembukaan lahan.
Ia mengatakan, pihaknya memahami bahwa berladang dan berkebun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan semata-mata melarang, tetapi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar penggunaan api tetap terkendali.
“Alhamdulillah, hingga saat ini tidak terjadi kebakaran di kawasan TNKM. Kami sangat berharap kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan. Jangan sampai letupan api kecil berkembang menjadi kebakaran luas yang merusak alam kita,” ujar Seno, Kamis (10/09/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini telah bersinergi dalam menjaga kelestarian TNKM.
“Kawasan TNKM adalah rumah bagi beragam satwa liar sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga agar aktivitas pembukaan lahan tidak merusak hutan” katanya.
Seno juga mengajak masyarakat untuk segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila melihat titik api yang berpotensi meluas ke kawasan TNKM.
“Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula kita dapat melakukan penanganan,” tambahnya.
Menjaga kawasan hutan dari karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah hutan terbakar. Lebih dari itu, setiap upaya pencegahan adalah bentuk kepedulian untuk mempertahankan rumah bagi satwa liar, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memastikan hutan tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Dengan kolaborasi antara petugas, masyarakat adat, desa penyangga, dan para pemangku kepentingan, hutan TNKM diharapkan tetap lestari dan menjadi rumah yang aman bagi satwa serta sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Narasi: SPTN Wilayah I Long Bawan
oleh vincentius tito | Sep 9, 2026 | Berita
NUNUKAN — Sinergi antara penjaga kedaulatan negara dan penjaga kelestarian lingkungan terus diperkuat di garis depan perbatasan Indonesia-Malaysia. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia Yonkav 13/Satya Lembu Ceta (SL) menggelar kunjungan kerja resmi ke Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).
Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan persepsi dan menguatkan koordinasi lapangan, khususnya terkait perlindungan serta pengamanan wilayah kerja Resor Lumbis yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Secara administratif, wilayah kerja Resor Lumbis ini masuk ke dalam area Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan.

Fokus Pengamanan dan Patroli Bersama Wilayah Resor Lumbis memiliki nilai geopolitik dan ekologis yang sangat tinggi. Selain menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah, kawasan ini menjadi salah satu titik rawan aktivitas ilegal lintas batas.
Beberapa poin utama kerja sama yang disepakati dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Pengawasan Lintas Batas:Mengintensifkan pemantauan terhadap patok batas negara dan aktivitas pergerakan ilegal di area hutan konservasi.
- Pencegahan Illegal Logging & Perburuan Liar:Menggabungkan pemetaan intelijen dan keahlian navigasi darat untuk meminimalisir perusakan hutan serta perburuan satwa dilindungi.
- Patroli Sinergis:Merencanakan patroli gabungan berkala antara prajurit Satgas Pamtas dan petugas Polhut/pengelola TNKM menyisir celah-celah rawan di sepanjang perbatasan Resor Lumbis.
Komitmen Menjaga Hutan Paru-Paru Dunia Perwakilan Satgas Pamtas Yonkav 13/SL menegaskan bahwa tugas pengamanan perbatasan tidak hanya berfokus pada ancaman fisik terhadap kedaulatan negara, tetapi juga mencakup perlindungan aset dan sumber daya alam nasional dari penjarahan.
Pihak SPTN Wilayah I Long Bawan menyambut positif kolaborasi ini. Dukungan personel dan pos-pos TNI di sepanjang perbatasan memberikan penguatan signifikan bagi petugas taman nasional yang menghadapi keterbatasan jangkauan di medan terisolasi.

Melalui sinergi erat ini, diharapkan keandalan keamanan serta kelestarian ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang tetap terjaga, menjadikan perbatasan Indonesia tidak hanya aman secara kedaulatan, tetapi juga lestari secara lingkungan.
cr : SPTN Wilayah I – Long Bawan