Jaga Rumah Satwa dan Sumber Kehidupan, Balai TN Kayan Mentarang Perkuat Pencegahan Karhutla

Jaga Rumah Satwa dan Sumber Kehidupan, Balai TN Kayan Mentarang Perkuat Pencegahan Karhutla

MALINAU — Menjaga hutan dari kebakaran bukan hanya tentang melindungi pepohonan, tetapi juga menjaga rumah bagi satwa liar sekaligus sumber kehidupan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun.

Hal inilah yang menjadi perhatian Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau.

Secara umum, kebakaran dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), khususnya dalam skala besar, bukan merupakan kejadian yang umum.

Kondisi hutan yang masih relatif baik dengan kelembapan cukup tinggi menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.

Meski demikian, potensi risiko tetap perlu diwaspadai, berdasarkan pemantauan petugas, potensi kebakaran lebih banyak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan masyarakat di sekitar kawasan.

Sejauh ini, petugas menemukan dua titik kebakaran lahan di sekitar kawasan TNKM pada SPTN Wilayah I, kebakaran tersebut diketahui berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan.

 

Petugas kemudian segera melakukan penanganan di lapangan sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat agar penggunaan api dilakukan secara hati-hati dan terkendali.

Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan agar api tidak berkembang dan merembet menuju kawasan taman nasional.

Bagi Balai TNKM, menjaga kawasan dari karhutla berarti menjaga keberlangsungan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

Apabila kebakaran meluas, tutupan hutan primer maupun sekunder dapat mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, tetapi juga rusaknya tempat satwa berlindung, berkembang biak, dan mencari makanan.

Kerusakan vegetasi juga dapat mengganggu rantai makanan yang selama ini berjalan secara alami di dalam ekosistem hutan.

Satwa yang kehilangan habitat dan sumber makanan dapat terdorong berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam kondisi kebakaran yang lebih besar, satwa juga dapat menghadapi ancaman langsung.

Pergerakan mereka bisa terganggu oleh api, sementara kepungan asap pekat berpotensi mengganggu pernapasan.

Namun, apabila kebakaran masih berskala kecil dan tidak masuk jauh ke kawasan TNKM, dampaknya terhadap habitat satwa relatif dapat dibatasi. Karena itu, mencegah api sejak awal menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan menunggu kebakaran membesar.

Untuk mengantisipasi potensi karhutla, BTNKM terus melakukan pemantauan kondisi kawasan, terutama di lokasi yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.

Pemantauan titik panas dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi SiPongi dari Kementerian Kehutanan. Ketika ditemukan informasi mengenai titik panas, asap, atau indikasi kebakaran, petugas dapat melakukan pengecekan langsung ke lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Apabila ditemukan kebakaran yang berpotensi masuk ke kawasan TNKM, petugas juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Selain itu, posko-posko pengendalian dibentuk di tingkat resort untuk memperkuat pemantauan dan memudahkan respons apabila terjadi kebakaran.

Pendekatan yang dilakukan BTNKM tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi lebih mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.

Upaya menjaga TNKM tidak dapat dilakukan sendiri oleh petugas, masyarakat adat memiliki peran penting karena telah hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun dan memiliki pengetahuan lokal dalam mengelola lingkungan.

Dalam aktivitas perladangan, masyarakat juga mengenal berbagai cara untuk mengendalikan penggunaan api, termasuk pembuatan sekat bakar alami agar api tidak mudah menjalar.

Komunikasi dengan masyarakat desa penyangga terus diperkuat, masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika muncul asap atau api.

Karena itu, masyarakat bukan hanya menjadi penerima himbauan, tetapi juga bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.

Selama ini, *tidak terjadi* kebakaran besar di dalam kawasan yang menyebabkan satwa harus dievakuasi secara massal.

Pada dasarnya, satwa liar memiliki kemampuan alami untuk menghindari api dan berpindah menuju bagian habitat yang lebih aman. Karena itu, ketika kebakaran terjadi di sekitar kawasan, prioritas petugas adalah memastikan api tidak masuk dan menyebar ke habitat satwa di dalam TNKM.

Apabila suatu saat terjadi kebakaran besar dan ditemukan satwa yang terluka atau terjebak, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan serta dilakukan melalui koordinasi dengan pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan satwa liar.

Penanganan dapat meliputi evakuasi darurat bersama tim medis veteriner, tindakan medis apabila diperlukan, hingga penyediaan pangan darurat bagi satwa yang terdampak.

Namun, bagi BTNKM, upaya terbaik tetaplah mencegah satwa kehilangan habitatnya.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E, mengimbau masyarakat di sekitar kawasan agar selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas pembukaan lahan.

Ia mengatakan, pihaknya memahami bahwa berladang dan berkebun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan semata-mata melarang, tetapi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar penggunaan api tetap terkendali.

“Alhamdulillah, hingga saat ini tidak terjadi kebakaran di kawasan TNKM. Kami sangat berharap kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan. Jangan sampai letupan api kecil berkembang menjadi kebakaran luas yang merusak alam kita,” ujar Seno, Kamis (10/09/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini telah bersinergi dalam menjaga kelestarian TNKM.

“Kawasan TNKM adalah rumah bagi beragam satwa liar sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga agar aktivitas pembukaan lahan tidak merusak hutan” katanya.

Seno juga mengajak masyarakat untuk segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila melihat titik api yang berpotensi meluas ke kawasan TNKM.

“Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula kita dapat melakukan penanganan,” tambahnya.

Menjaga kawasan hutan dari karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah hutan terbakar. Lebih dari itu, setiap upaya pencegahan adalah bentuk kepedulian untuk mempertahankan rumah bagi satwa liar, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memastikan hutan tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dengan kolaborasi antara petugas, masyarakat adat, desa penyangga, dan para pemangku kepentingan, hutan TNKM diharapkan tetap lestari dan menjadi rumah yang aman bagi satwa serta sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Narasi: SPTN Wilayah I Long Bawan

Sinergi di Jantung Kalimantan: Cerita dibalik Patroli dan Penjagaan Kawasan di Wilayah Hulu Bahau

Sinergi di Jantung Kalimantan: Cerita dibalik Patroli dan Penjagaan Kawasan di Wilayah Hulu Bahau

Long Alango – Menjaga bentang alam Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) yang begitu luas tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Kali ini patroli penjagaan Kawasan TNKM dilakukan selama 15 hari penuh dari tanggal 14 hingga 28 Februari lalu, tepatnya pada wilayah kerja SPTN II Long Alango Resor Sungai Bahau wilayah Long Tua.

Tim beranggotakan empat orang dimana dua petugas lapangan seksi wilayah II Long Alango, Resort Sungai Bahau dan dua orang masyarakat lokal  yang sangat piawai mengemudikan perahu. Bersama-sama, mereka menembus derasnya Hulu Sungai Bahau demi satu tujuan, merawat rumah bagi satwa liar dan melindungi kekayaan alam di dalamnya.

Pohon Raksasa dan Satwa Liar di Sungai Berau

Patroli dimulai dengan berjalan kaki (tracking) membelah lebatnya hutan di sekitar Sungai Berau selama tujuh hari. Di kawasan yang masih sangat asri ini, tim dibuat takjub dengan ukuran pepohonannya. Mereka bahkan menemukan Pohon Benuang, begitu warga Suku Kenyah menyebutnya, dengan diameter batang mencapai 5 meter.

Sepanjang jalan, alam seolah memamerkan kekayaannya. Tim menemukan bunga langka Sapria dan sarang lebah madu hutan. Jejak kehidupan satwa juga sangat jelas terlihat; ada tanduk rusa yang ditemukan, bulu landak, hingga bekas tempat bermain burung kuau. Jika melihat ke atas dahan pohon, kawanan owa-owa dan monyet tampak asyik bergelantungan dan beraktivitas bebas.

 

Merawat ‘Ruang Makan’ Banteng Kalimantan

Setelah sempat beristirahat sejenak di Desa Apau Ping untuk memulihkan tenaga, tim kembali bergerak menuju Pondok Hutan Long Tua. Di kawasan padang savana ini, mereka punya misi khusus. Selama tiga hari, tim bergotong-royong memotong semak belukar yang mulai menutupi padang rumput.

Tujuannya sederhana tapi sangat penting: memberi ruang agar rumput-rumput baru yang segar bisa segera tumbuh. Rumput muda inilah yang menjadi sumber makanan utama bagi Banteng Kalimantan liar yang hidup di sana. Selain merawat “ruang makan” banteng, mereka juga membersihkan area sekitar pondok agar tetap layak digunakan sebagai pos penjagaan.

Bertaruh Nyawa Melawan Cuaca dan Arus Liar

Patroli menjaga hutan ini jelas bukan sekadar jalan-jalan biasa. Di hari terakhir penelusuran hutan, tim harus terus melangkah menembus belantara di tengah guyuran hujan lebat dan angin kencang.

Tantangan terberat justru datang dari jalur air. Saat sungai tiba-tiba meluap dan banjir, nyawa menjadi taruhannya. Menggunakan perahu kecil bermesin (ketinting), mereka harus berjuang mati-matian melewati Jeram Palang Lepak yang terkenal sangat ganas. Begitu derasnya arus banjir waktu itu, sampai-sampai satu perahu mereka yang sedang diikat di pinggir sungai putus dan hanyut terbawa air.

Meski kehilangan satu perahu penting di tengah hutan, semangat mereka tidak luntur. Dengan memanfaatkan satu perahu yang tersisa, tim saling menjaga keselamatan satu sama lain dan berhasil menuntaskan misi hingga akhir.

Kisah perjalanan 15 hari ini menjadi bukti nyata. Ketika petugas negara dan masyarakat adat bersatu menjaga alam, tantangan seberat apa pun bisa dilewati. Hasilnya, kekayaan alam Jantung Kalimantan bisa terus lestari untuk generasi mendatang.

Narasi: Rafly

Foto: Dok SPTN Wilayah II Long Alango

Patroli Penjagaan Lalut Birai: Perkuat Perlindungan Kawasan Hutan

Patroli Penjagaan Lalut Birai: Perkuat Perlindungan Kawasan Hutan

Long Alango – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melalui SPTN II Long Alango Resor Sungai Bahau melaksanakan kegiatan patroli penjagaan kawasan di Desa Long Tebulo. Kegiatan ini berlangsung pada 14–28 Februari 2026 di wilayah Lalut Birai sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan, satwa liar, serta memperkuat pengamanan kawasan konservasi.

Kegiatan patroli ini bertujuan meningkatkan pengawasan dan pengamanan kawasan sekaligus mengumpulkan data keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Pelaksanaan patroli dilakukan menggunakan sistem SMART Patrol (Spatial Monitoring and Reporting Tool) yang mempermudah pencatatan data lapangan secara sistematis dan terintegrasi. Personil patroli penjagaan wilayah Lalut Birai tidak hanya dari pegawai SPTN II Long Alango Resor Sungai Bahau tapi juga melibatkan masyarakat desa penyangga.

Selama kegiatan patroli berlangsung, tim menjumpai berbagai jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan satwa liar serta bekas aktivitas satwa di dalam kawasan. Tim juga menemukan tumbuhan Rhizanthes, salah satu flora unik yang tumbuh di hutan tropis Kalimantan. Selain itu, beberapa tanda keberadaan satwa liar turut teridentifikasi seperti jejak rusa, landak, beruang madu, serta suara burung kuau raja yang bersahutan di tengah hutan. Temuan-temuan ini menjadi indikator bahwa kondisi ekosistem di kawasan tersebut masih terjaga dengan baik.

             

Selain pelaksanaan patroli, tim juga melaksanakan kegiatan penjagaan di wilayah SPHT (Stasiun Penelitian Hutan Tropis) Lalut Birai yang merupakan salah satu pintu masuk menuju kawasan Hutan Tanah Ulen milik masyarakat Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu. Dalam kegiatan tersebut, tim patroli dan penjagaan kawasan melaksanakan berbagai aktivitas rutin di sekitar pos penjagaan, seperti pembersihan lingkungan pos, perbaikan fasilitas yang ada, serta kegiatan inventarisasi tumbuhan. Inventarisasi ini mencakup berbagai jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat-obatan tradisional, sumber pangan, maupun bahan kerajinan yang terdapat di kawasan SPHT Lalut Birai.

Tidak mudah bagi tim patroli menuju ke dalam wilayah di karenakan akses yang begitu menantang dan sulit, akses menuju ke dalam Kawasan hanya bisa dilalui mengunakan alat transportasi perahu, dan berjalan kaki. Tentu hal ini menjadi salah satu tantangan dan keseruan yang di hadapi oleh tim patroli. Kegiatan patrol dan penjagaan Kawasan ini terus dilakukan sebagai bentuk komitmen Balai Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah II Long Alango Resor Sungai Bahau wilayah Lalut Birai, untuk mempertahankan kelestarian sumber daya alam dan ekosistem hayati yang ada di dalam Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.

   

Narasi : Irfan Andika

Editor : Shinta Dewi Marcelina

Foto: Dok SPTN Wilayah II Long Alango