Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!

Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!

Malinau – Masyarakat Dayak Kenyah subsuku Lepo’ Ke dan Lepo’ Maut di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, memiliki penutup kepala tradisional yang sangat ikonik bernama saung seling. Bukan sekadar pelindung kepala biasa, topi berbahan rotan dan bambu ini adalah simbol status sosial tingkat tinggi.

detikKalimantan berkesempatan mengunjungi langsung lokasi pembuatan mahakarya tersebut di Desa Long Kemuat. Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak dua wanita berpakaian adat wanita khas Dayak lengkap dengan aksesoris seperti gelang, kalung, dan topi adat, tengah apik menganyam saung seling.Tangan-tangan terampil itu tampak begitu telaten dan sabar merajut bilah demi bilah rotan hingga membentuk kerangka topi penutup kepala tradisional tersebut.

saung seling memang bukan anyaman biasa. Pada masa lampau hingga saat ini, saung seling bermotif khusus merupakan identitas eksklusif kaum bangsawan atau paren Eksklusivitas budaya ini dijaga sangat ketat oleh para perajinnya, salah satunya adalah Ibu Limbang. Ia menegaskan bahwa saung seling tidak diproduksi secara massal dan pantang dijual kepada sembarang orang meski ada yang berani menawar harganya.

“Tidak sembarang juga jualnya. Kalau orang datang ke rumah mau beli, mereka harus jelaskan dulu dari keluarga mana,” ungkap Limbang kepada detikKalimantan sambil menganyam. Minggu (2/8/2026).

Ia menegaskan, dirinya baru akan menyerahkan atau menjual saung seling buatannya jika pembeli tersebut terbukti memiliki silsilah keturunan bangsawan Dayak Kenyah yang berhak memakainya.

“Kalau saya tahu orang tuanya (berhak), baru saya kasih,” tegasnya.

Aturan adat yang ketat dan tingkat kerumitan dalam membuat saung seling membuat pengrajin topi ini semakin langka. Sadar akan ancaman kepunahan, Limbang sudah mendedikasikan dirinya untuk belajar membuat saung seling sejak usia 18 tahun, diwariskan langsung dari orang tuanya.

“Orang tua saya yang ajarkan buatnya. Takut punah, nanti kalau orang tua sudah tidak ada, siapa lagi yang buat? Makanya dari umur 18 tahun saya mulai belajar,” kenangnya.

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/budaya/d-8601379/topi-bangsawan-dayak-kenyah-ini-tak-bisa-dibeli-sembarangan. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Syahdunya Pagi di Savana Long Tua: Menikmati Embun, Menanti Sang Banteng

Syahdunya Pagi di Savana Long Tua: Menikmati Embun, Menanti Sang Banteng

Malinau – Liburan ke alam liar tak melulu soal rencana perjalanan yang terburu-buru demi sebuah foto epik. Seperti ketika menikmati perjalanan di Padang Savana Long Tua, Kalimantan Utara, kami belajar bahwa duduk diam menanti satwa liar di tengah kepungan kabut dan embun pagi adalah sebuah healing terbaik yang tak bisa dibeli di kota.

Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 Wita, namun mata kami sudah harus terbuka lebar. Udara pagi pedalaman Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, terasa begitu sejuk hingga hawa dinginnya perlahan menembus pori-pori jaket tebal kami. Suasana sangat hening, hanya ada deru arus giram Sungai Bahau yang memecah kebisuan hutan yang masih lelap dalam pelukan kabut putih.

Pagi itu, detikKalimantan bersama tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango, Balai TN Kayan Mentarang bersama sejumlah jurnalis, NGO, tenaga kesehatan, tenaga pengajar SMP dan SMA, serta kepala desa se Kecamatan Bahau Hulu, bersiap mengamati aktivitas banteng kalimantan (Bos javanicus lowii) atau yang disebut kelesiau oleh suku Dayak Kenyah. Menunggu satwa liar mengajarkan kita untuk tunduk pada aturan alam. Semuanya tak bisa instan. Langkah pertama kami dimulai dengan menyeberangi derasnya Sungai Bahau menggunakan perahu menuju titik awal hiking.

Begitu menginjakkan kaki di seberang, aroma khas tanah basah dan daun-daun hutan langsung menyergap penciuman. Kami melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di tengah vegetasi yang rapat.
Embun semalam masih menetes dari ujung-ujung dedaunan, membuat tanah berlapis humus itu menjadi cukup licin. Kiki, fasilitator komunitas KKI WARSI Kalimantan Utara asal Magelang yang ikut bersama kami, merasakan langsung tantangan rute berembun ini.

“Jalannya harus ekstra hati-hati karena licin banget kena embun pagi. Aku kebetulan pakai sandal gunung, jadi agak kewalahan,” ceritanya kepada detikKalimantan. Minggu (2/8).

Untuk menyiasati jalur basah ini, Kiki menyarankan traveler menggunakan sepatu karet berpul seperti bawahan sepatu bola, atau yang dikenal warga lokal sebagai sepatu belabak.
“Sepatu belabak itu tangguh banget buat medan terjal karena anti-selip. Jangan lupa juga pakai celana dan baju lengan panjang, karena di jalur basah begini banyak lintah,” pesannya.Menyusuri hutan hujan tropis yang basah oleh sisa hujan dan embun pagi tentu ada harganya. Di sinilah kami harus berhadapan dengan rintangan kecil yang selalu jadi tuan rumah tak kasat mata, yakni pacet.

“Bukan petualangan ke Kalimantan namanya kalau belum bertemu pacet. Hewan itu biasa berada di bawah lapisan dedaunan lembap. Pacet ibarat ninja, diam-diam sudah ada di sekujur tubuhmu,” bebernya.

Gigitannya yang mengandung zat anestesi alami membuat kita sering kali tak sadar saat digigit. Tahu-tahu, ada rasa gatal atau kaus kaki sudah dihiasi bercak merah kehitaman karena ‘donor darah’ dadakan.

“Tadi sempat parno juga sih karena rutenya basah berembun, itu kan surganya lintah. Karena persiapan kurang dan cuma pakai sandal, jalannya jadi harus sambil larak-lirik ke kaki. Makanya, kalau mau ke sini, celana panjang, baju lengan panjang, dan kaus kaki tebal itu harga mati!” seru Kiki sambil tertawa mengingat drama kecil di jalur pendakian.

Agar napas tak habis terbuang sia-sia, kami sengaja melambatkan ritme langkah. Mendaki bukit dengan kemiringan yang perlahan kian ekstrem hingga nyaris 90 derajat bukanlah perkara mudah.
Namun, peluh itu seketika kering saat kami tiba di titik tertinggi. Sebuah pondok kayu dan papan penanda bertuliskan “Padang Rumput Long Tua” menyambut kami.
Di sinilah momen kesadaran penuh diuji. Kami duduk diam, meresapi setiap detik embun yang turun dari kabut tebal yang perlahan menyelimuti hamparan savana hijau sejauh mata memandang. Udaranya sangat bersih, meresap segar ke dalam paru-paru.

Kolam di atas bukit Savana Long Tua.

Lalu, bagaimana dengan sang banteng? Alam nyatanya sedang ingin bermain rahasia. Pagi itu, kawanan kelesiau enggan menampakkan wujudnya di padang rumput. Menariknya, tak ada sedikit pun gurat kekecewaan. Kegagalan bertemu satwa eksotis ini justru menjadi ruang syahdu tersendiri. Kiki bahkan meromantisasi momen penantian tersebut.

“Aku memang pengen banget lihat banteng. Tapi karena dia nggak muncul, ya nggak apa-apa. Tadi saat nunggu, aku malah dengar jelas suara burung enggang bersahutan dari kejauhan. Saya makin kagum, sekalipun tak lihat wujudnya dari mana. Suasana damai seperti ini nggak ada di Magelang, ini benar-benar pengalaman mahal,” tuturnya dengan senyum puas.

Bagi Kiki, perjalanan menembus embun di pedalaman Kaltara ini tidak sekadar menikmati alam, tapi juga menemukan kehangatan manusianya.

“Saya kadang dengar stereotip kalau orang Dayak itu primitif. Ternyata itu salah! Warga di Desa Apau Ping ini sangat ramah, baik, dan hangat banget menyambut tamu,” tegas Kiki.

Jika Traveler tertarik mencari kedamaian di tengah savana berembun ini, siapkan waktu ekstra. Rutenya dimulai dengan terbang ke Tarakan, dilanjutkan naik speedboat menuju Malinau. Dari Malinau, kamu harus menumpang pesawat perintis menuju Long Alango (sekitar 45 menit), sebelum akhirnya menyusuri sungai dengan ketinting ke Long Tua selama 2-3 jam. Jangan lupa, urus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) via online di portal TN Kayan Mentarang sebelum berangkat, ya!

Meski perjalanannya menguras tenaga dan waktu, duduk menanti di tengah Savana Long Tua yang berselimut embun akan selalu memanggilmu untuk kembali. Tertarik merasakan healing di Jantung Borneo?

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Syahdunya Pagi di Savana Long Tua: Menikmati Embun, Menanti Sang Banteng” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/wisata/d-8600767/syahdunya-pagi-di-savana-long-tua-menikmati-embun-menanti-sang-banteng.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Mencicipi Kuliner Mewah Ikan Dewa di Tepi Sungai Bahau

Mencicipi Kuliner Mewah Ikan Dewa di Tepi Sungai Bahau

Malinau – Di kota-kota besar atau restoran bintang lima, harga sajian Ikan Dewa (Mahseer) bisa menembus ratusan ribu hingga lebih dari Rp 1,2 juta per porsi. Namun di hulu Sungai Bahau, ikan air tawar bernilai fantastis ini tersaji hangat, murni, dan berlimpah.

Hampir lima hari menetap di kawasan Bahau Hulu, saya baru menyadari satu hal, warga lokal secara tak sadar telah memanjakan kami dengan kuliner paling mewah di tengah benteng terakhir hutan hujan Borneo. Siang itu, terik matahari menembus celah pepohonan di tepi Sungai Bahau. Beberapa warga lokal tampak sibuk di atas andras (bebatuan) sungai, membersihkan sisik dan sirip sejumlah ikan seperti baung, salap dan ikan dewa yang oleh masyarakat setempat dijuluki Ikan Padek atau Ikan Pelian.

Sajian istimewa ini disiapkan khusus untuk menjamu puluhan tamu undangan yang hadir dalam rangkaian journalist trip sekaligus peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Acara ini digagas oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).Demi menyajikan hidangan berkelas ini, warga lokal harus menembus giram sungai berarus deras yang terkenal ekstrem hanya untuk memastikan para tamu mendapatkan ikan segar terbaik.Tak ada koki berbintang atau bumbu instan yang rumit. Proses pengolahannya sangat bersahaja, yaitu direbus, atau digoreng langsung di tepi sungai. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah letak kelezatannya yang murni.

“Kita ambilnya hanya secukupnya saja. Itupun karena pas momennya ikan sedang bertelur dan untuk menjamu para tamu undangan,” ujar Along, salah seorang warga lokal sembari cekatan membersihkan sisik ikan di atas batu sungai.

Aroma gurih nan manis meruak tajam saat lemak alami ikan meleleh terkena nasi panas. Saat gigitan pertama mendarat di mulut, tekstur dagingnya terasa luar biasa lembut, manis alami, dan kaya akan lemak gurih. Sensasi renyah yang menyatu sempurna dengan lembutnya daging ikan.Bagi warga lokal, cara terbaik menikmati Ikan Dewa adalah memadukannya dengan ulekan cabai rawit lokal yang pedasnya menggigit di lidah. Di sela-sela menikmati hidangan, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM, Jefry Frihardian Gumilar, menjelaskan betapa berharga dan langkanya ikan air tawar spesies Tor ini.”Dari segi konsumsi, Ikan Pelian merupakan lauk makanan super mewah. Jika di Pulau Jawa, ikan Mahseer yang siap santap harganya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 1.200.000 per porsinya,” kata Jefri saat berbincang di Resor Sungai Bahau, SPTN Wilayah II Long Alango.

Proses Memasak Ikan di Tepi Sungai

Jefri menambahkan, dari beberapa literatur ilmiah, tingkat keberhasilan pembudidayaan Ikan Pelian terbilang sangat rendah. Jikapun ada yang berhasil membudidayakannya secara komersial, harga jualnya dipastikan melonjak tajam.

“Hal ini terjadi karena Ikan Pelian secara alami hanya bisa tumbuh subur di ekosistem sungai berarus deras dengan kualitas air hutan primer yang sangat jernih dan bebas polusi salah satu habitat terbaiknya adalah hulu Sungai Bahau,” bebernya.

Meski ikan ini bernilai jutaan rupiah di kota besar, harganya sangat terjangkau di tingkat lokal Bahau Hulu.”Di sini Ikan Pelian hanya dijual sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Padahal ikan ini sangat susah didapatkan karena hidup di sungai berarus kencang, sangat peka, dan sulit dipancing atau dijaring kecuali pada kondisi air tertentu,” jelas Jefri.

Populasi Ikan Dewa di Sungai Bahau masih sangat terjaga dibanding wilayah lain di Indonesia. Rahasianya terletak pada pola hidup masyarakat adat yang tidak mengkomersialkan hasil sungai secara berlebihan. Di kota-kota besar, tekanan populasi penduduk dan eksploitasi komersial membuat keberadaan ikan ini makin langka. Sebaliknya di Bahau Hulu, warga tidak menjual ikan ini keluar wilayah secara masif.

“Masyarakat sampai saat ini sangat menjaga habitatnya. Ikan ini hanya ditangkap pada momen-momen tertentu saja, salah satunya saat musim bertelur atau saat ada acara adat dan kedatangan tamu penting,” pungkas Jefri.

Meskipun di beberapa sungai lain di Kabupaten Malinau seperti Sungai Tubu, Sungai Mentarang, hingga kawasan Long Pujungan dan Long Benah, jumlah populasinya bervariasi, kearifan lokal suku Dayak di Bahau Hulu terbukti menjadi benteng alami terbaik yang menjaga sang ‘Raja Sungai’ tetap lestari.

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Mencicipi Kuliner Mewah Ikan Dewa di Tepi Sungai Bahau” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/kuliner/d-8596633/mencicipi-kuliner-mewah-ikan-dewa-di-tepi-sungai-bahau.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Malinau – Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, tersimpan peninggalan bersejarah berupa situs kuburan batu kuno leluhur suku Dayak. Peninggalan megalitik yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini menjadi bukti kuat keberadaan peradaban kuno, yang hidup menyatu dengan alam di sepanjang aliran Sungai Bahau.

Situs makam batu tersebut berada di wilayah kerja SPTN Wilayah II Long Alango, tepatnya di seberang Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu. Untuk mencapai lokasi harus menempuh perjalanan menggunakan perahu ketinting selama kurang lebih 60 menit dari Long Alango. Selama perjalanan disuguhi pemandangan hutan asri, jeram arus deras yang memacu adrenalin, hingga keindahan burung-burung liar.

Berdasarkan pantauan detikKalimantan di lokasi, terdapat sekitar 5 hingga 6 kuburan batu dengan ketinggian lebih dari satu meter. Inti makam berbentuk menyerupai mangkok batu besar yang ditutupi dan dikelilingi bebatuan tebal berdiameter sekitar satu setengah jengkal orang dewasa. Di dalam mangkok batu tersebut tersimpan susunan tulang belulang manusia. Kepala Adat Desa Long Berini, Irang Lawai, mengungkapkan keberadaan makam kuno ini sudah diketahui warga sejak puluhan tahun silam.

“Sekitar tahun 1933, waktu orang Berini bikin rumah dan pondok ladang di daerah itu, dari situlah warga tahu bahwa di situ ada kuburan kuno,” kata Irang Lawai saat ditemui di lokasi. Selasa (28/7/2026).

Kepala Desa Long Berini, Sili, menjelaskan tradisi pemakaman pada zaman dahulu sangat berbeda dengan metode penguburan masa kini. Dahulu, jenazah tidak langsung dikubur di dalam tanah, melainkan diletakkan di atas wadah kayu hingga membusuk.

“Setelah membusuk, wadahnya dibuka kembali, tulangnya diambil dan dibersihkan. Setelah bersih, baru dimasukkan ke dalam kuburan batu ini melalui ritual khusus,” jelas Sili kepada detikKalimantan.

Sili menambahkan satu wadah kuburan batu tidak hanya diisi oleh satu jenazah, melainkan berisi tulang belulang dari banyak individu atau satu keluarga besar.

“Saya pernah ikut membersihkan makam di seberang hulu kampung. Sewaktu dibuka, di situ ada 11 tengkorak kepala dengan ukuran bervariasi, dari yang besar sampai yang kecil disatukan di dalam satu kuburan batu,” ungkapnya.

Makam batu ini diyakini merupakan peninggalan suku Dayak Ngorek yang menjadi penghuni awal di wilayah tersebut. Namun, seiring perpindahan permukiman, suku Dayak Kenyah mulai mendiami kawasan tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa di beberapa lokasi makam batu ditemukan artefak tambahan berupa tempayan keramik kuno atau gong.

“Waktu kuburan batu ini ada, awalnya cuma batu saja. Setelah suku Ngurek pindah dan suku Kenyah masuk, tempayan atau gong ditaruh di situ sebagai warisan atau bekal bagi keluarga yang meninggal,” tambah Sili.

Peninggalan kuburan kuno ini tidak hanya terpusat di satu titik. Selain di seberang Desa Long Berini, situs serupa juga tersebar di beberapa lokasi seperti Long Pulung, Kuala Sungai Berini, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan di dalam hutan. Bentuknya pun bervariasi, ada yang berbentuk mangkok bulat dan ada pula yang berbentuk kotak batu yang ditopang tiang batu berdiri.

“Sayangnya, kondisi situs peninggalan sejarah bernilai tinggi ini kian memprihatinkan. Akibat minimnya perawatan dan ketiadaan pemeliharaan rutin dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kuburan batu kini mulai tertutup tanah, tertimbun dedaunan, hingga ditumbuhi lumut tebal,” rincinya.

Pemerintah desa dan lembaga adat setempat berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait, jurnalis, maupun pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) untuk membantu menata dan melestarikan situs tersebut.

“Harapan saya, peninggalan ini bisa ditata dan dirawat kembali. Jika bisa digali dan dirapikan ulang, situs ini akan sangat menarik untuk dijadikan potensi wisata budaya yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” tutur Sili.

 

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/budaya/d-8594278/kuburan-batu-kuno-di-tnkm-situs-sejarah-yang-butuh-perhatian.