MALINAU. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan pegawainya ikut berpartisipasi dalam Seminar Nasional Biologi Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Mulawarman dan Universitas Lambung Mangkurat dengan tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” pada tanggal 1 Oktober 2026. Seminar tersebut dilaksanakan secara daring maupun luring terbuka untuk umum. Secara luring dilaksanakan bertempat di Gedung Science Learning Center (SLC) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman, Samarinda.

Keikutsertaan secara langsung dari BTNKM yang dihadiri oleh Misoniman, S.H (Kepala Seksi PTN Wilayah III Long Ampung) dan Marsianus Marthin Rivaldy, S.Si (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama) merupakan bagian dari peningkatan kapasitas SDM ASN di bidang konservasi alam. Join Seminar Nasional Biologi 2026 tersebut merupakan rangkaian puncak untuk membahas tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” dimana sebelumnya BTNKM ikutserta dalam berkontribusi sebagai pemakalah pada sub tema “Adaptasi Biologi, Etnobiologi tropis, Ekowisata pembangunan, dan Peran Sains” dengan judul makalah “Studi Etnobotani Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan dalam Pemanfaatan Tumbuhan dan Hewan Untuk Pengobatan di Desa Long Ampung dan Desa Metulang”. Desa Long Ampung dan Desa Metulang merupakan desa penyangga sekitarkawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang berada di Resor Apau Kayan SPTN Wilayah III Long Ampung. Makalah disusun oleh Marsianus Marthin Rivaldi, S.Si (Penulis Utama), Misoniman, S.H dan Jordan Mordekhai, S.H (Penulis Pendukung) berdasarkan riset yang telah dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap 20 informan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data yang berhasil dikumpulkan berupa data kuantitatif kemudian diolah menggunakan rumus RFC (Relative Frequency of Citation), UV (Use Value), ICS (Index of Cultural Significance), dan FL (Fidelity Level). Upaya untuk mempublikasikan pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan local masyarakat adat Suku Dayak Kenyah Lepo’ Jalan Desa Long Ampung dan Desa Metulang belum terpublikasikan secara spesifik, sehingga membuat peneliti/pemakalah melakukan riset lapangan. Data didapatkan sekitar 17 jenis tumbuhan dan 10 jenis hewan yang sering dimanfaatkan oleh mayarakat adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan. Jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional berasal dari pekarangan rumah, hutan, ladang, dan tepi Sungai. Tumbuhan yang banyak dimanfaatkan dalam pegobatan tradisional diantaranya Kunyit (Curcuma longa), Krangean/Balangla (Litsea cubeba), Serai Merah (Cyombopogon nardus), dan Temulawak (Curcuma zanthorrhiza). Sedangkan hewan yang banyak dimanfaatkan diantaranya Ulat Kelatang/Sumpan (Fam.Cossidae), Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus), Kelulut Beruang (Tetrigona binghami), Kelulut Hitam (Heterotrigona itama), Kelulut Kuning (Tetragonula melina), Kelulut Kuning Kepala Hitam (Tetragonula melanocephala), dan Lebah Madu Hutan (Apis dorsata).

Dekan FMIPA Prof. Dr. Hj. Ratna Kusuma, M.Si dalam sambutannya menyebutkan menyampaikan apresiasi keterlibatan dalam Seminar Nasional Biologi 2026 dan pemakalah dari berbagai mahasiswa jurusan Biologi, peneliti, lembaga maupun instansi salah satunya yang berasal dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Keynote Speaker yang hadir dalam seminar tersebut diantaranya Prof.Dr. Hetty Manurung, S.Si, M.Si (FMIPA Unmul), Dr. Tri Atmoko, S.Hut, M.Si (Peneliti BRIN), Dr. Gary L. Shapiro (Orang Utan Republic Foundation), dan Prof. Dr. Catur Ratnaningdyah, M.Si (FSTM Univ.Brawijaya)

Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut, ME mengatakan, “ASN perlu terus meningkatkan literasi dan riset ilmu pengetahuan dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang ada di sekitar maupun di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang melalui berbagai upaya kegiatan di lapangan maupun pelatihan/bimbingan teknis, dan mempublikasikannya agar menjadi sumber informasi. Masih banyak yang perlu diungkapkan di Taman Nasional Kayan Mentarang tentang keanekaragaman hayatinya karena memiliki luas yang sangat besar sekira 1.271.665 Hektara melalui publikasi ilmiah” jelasnya.

Seno menambahkan, data dan informasi Taman Nasional Kayan Mentarang yang sudah hampir 30 tahun (7 Oktober 2026) masih perlu didorong untuk terus dieksplorasi untuk mengungkap lebih banyak lagi data dan informasi yang mungkin belum banyak di ketahui oleh khalayak umum, misalnya saja dilakukan riset dengan melibatkan berbagai peneliti atau ahli dan mendorong untuk terus mempublikasikannya baik melalui jurnal ilmiah maupun dalam bentuk publikasi lainnya.

“Dalam salah satu data yang didapatkan saat melakukan riset lapangan terkait etnobotani pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan tradisional, Ulat Kelatang (Fam.Cossidae) atau Sumpan (dalam Bahasa Dayak Kenyah Lepo’ Jalan) menjadi hewan yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Ulat Kelatang ini biasanya didapatkan dari bekas-bekas perladangan berpindah yang ditumbuhi jenis pohon-pohon pioneer. Semua bagian Ulat Kelatang dimanfaatkan, mulai dari dagingnya hingga minyak yang berada dalam empedunya. Sampai dengan saat ini masih belum diketahui jenis serangganya. Sedangkan pohon yang menjadi inang Ulat Kelatang diperkirakan dari genus Syzygium (Fam. Myrtaceae/suku Jambu-Jambuan). Biasanya Ulat Kelatang dimanfaatkan untuk penyembuhan luka luar, sakit lambung/maag, mempercepat penyembuhan luka, mengatasi gatal-gatal. Ulat Kelatang memiliki potensi bioprospeksi untuk dikembangkan guna kebutuhan pengobatan dan mengetahui senyawa kimia yang terkandung didalamnya. Sebelumnya Ulat Kelatang juga sudah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh Suku Dayak Lun Dayeh (Krayan) dan Suku Punan Tuvu’ (Sungai Tubu)” Jelasnya Misoniman. (*)

cr : SPTN III Long Ampung