oleh vincentius tito | Okt 14, 2026 | Berita
NUNUKAN – Menanamkan kepedulian terhadap kelestarian alam dapat dimulai sejak bangku sekolah. Upaya tersebut dilakukan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan dengan memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Lumbis, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor SPTN Wilayah I Long Bawan ini menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat fungsi hutan, kekayaan keanekaragaman hayati, serta pentingnya menjaga kawasan konservasi. Rombongan siswa berasal dari Kecamatan Lumbis Hulu dan didampingi Camat Lumbis Hulu, Justinus, S.Sos., M.A.P., beserta jajaran, kedatangan mereka disambut Kepala Seksi SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, S.Hut., bersama jajaran staf.
Selain mengikuti kegiatan pendidikan lingkungan hidup, rombongan Kecamatan Lumbis Hulu bersama para siswa juga turut menghadiri rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan. Dalam kegiatan edukasi tersebut, para siswa mengikuti pemaparan materi bertajuk “Mengenal Hutan dan Taman Nasional Kayan Mentarang” yang disampaikan oleh petugas SPTN Wilayah I Long Bawan, yakni Anggi selaku Polisi Kehutanan (Polhut), Rahmi selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), dan Rizki selaku Penyuluh. Materi yang disampaikan mencakup pengertian hutan, fungsi kawasan hutan, pengenalan kawasan konservasi, kekayaan keanekaragaman hayati TNKM, hingga langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Para siswa diperkenalkan dengan hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem yang terdiri atas sumber daya alam hayati dan didominasi pepohonan, tempat berbagai makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan fisiknya, termasuk tanah, air, dan udara. Petugas juga menjelaskan perbedaan antara hutan dan kawasan hutan. Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem, sedangkan kawasan hutan adalah wilayah yang ditetapkan pemerintah berdasarkan ketentuan hukum dan administratif. Berdasarkan fungsinya, hutan dibedakan menjadi hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi. Para pelajar turut diperkenalkan dengan berbagai bentuk kawasan konservasi, termasuk taman nasional yang memiliki peran penting dalam melindungi keanekaragaman hayati dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Sesi Materi oleh SPTN I Long Bawan
Dalam pemaparan berikutnya, para siswa mendapatkan penjelasan mengenai Taman Nasional Kayan Mentarang yang memiliki luas sekitar 1.271.700 hektare. Kawasan konservasi ini secara administratif berada di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Pengelolaan TNKM terbagi dalam tiga wilayah, yakni SPTN Wilayah I Long Bawan yang membawahi Resor Krayan dan Resor Lumbis, SPTN Wilayah II Long Alango, serta SPTN Wilayah III Long Ampung. Petugas juga menjelaskan tiga kegiatan utama pengelolaan kawasan, meliputi perlindungan dan pengamanan kawasan, pemantauan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat. Untuk memperkenalkan kekayaan hayati TNKM, para siswa diperlihatkan dokumentasi foto sejumlah satwa yang ditemukan di kawasan tersebut, antara lain beruang madu, rusa sambar, kijang, kucing hutan, beruk, dan puyuh sengayan.
Selain satwa, para pelajar diperkenalkan dengan kekayaan flora, seperti anggrek dan Rafflesia, potensi wisata alam TNKM juga menjadi bagian dari materi, termasuk lanskap perbukitan dan hamparan awan yang memperlihatkan keindahan bentang alam kawasan konservasi. Melalui pengenalan tersebut, para siswa diharapkan memahami bahwa hutan tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga merupakan kekayaan alam yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Kepala Seksi SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, S.Hut., menyambut baik kunjungan para pelajar beserta jajaran Pemerintah Kecamatan Lumbis Hulu. Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan.
“Kami menyambut baik kedatangan adik-adik pelajar dan Bapak Camat beserta jajaran. Taman Nasional Kayan Mentarang adalah warisan alam yang harus kita jaga bersama untuk anak cucu kita, dan generasi muda memegang peran penting untuk meneruskannya,” ujar Hery.
Ia berharap kunjungan tersebut dapat menambah pemahaman para siswa tentang pentingnya menjaga hutan sekaligus mendorong mereka menjadi teladan dalam pelestarian lingkungan, baik di sekolah maupun di tempat tinggal masing-masing. Tidak hanya mengenal hutan dan keanekaragaman hayati, para siswa juga diajak merefleksikan kondisi bumi pada masa depan melalui ilustrasi yang menggambarkan perbedaan antara lingkungan yang terjaga dan lingkungan yang mengalami kerusakan.
Materi tersebut menekankan bahwa menjaga kelestarian bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah dan pola konsumsi yang bertanggung jawab, contohnya, mengambil makanan sesuai kebutuhan agar tidak terbuang, mengurangi pembelian barang yang tidak diperlukan, serta memilih produk pangan lokal. Mereka juga diperkenalkan dengan prinsip 3R, yaitu reduce atau mengurangi sampah, reuse atau menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle atau mendaur ulang sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali. Salah satu langkah yang ditekankan adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif, para siswa mengikuti pemaparan dengan antusias dan aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi seputar hutan, kawasan TNKM, serta upaya menjaga lingkungan.Salah seorang siswa SMAN 1 Lumbis, Viona, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Sebelumnya saya hanya tahu nama Taman Nasional Kayan Mentarang. Hari ini saya jadi tahu bahwa hutan punya banyak manfaat dan harus kita jaga bersama. Senang sekali bisa belajar langsung dan mendengar cerita petugas yang menjaga hutan,” ungkap Viona.
Sementara itu, Desmas siswa SMAN 1 Lumbis, menilai kegiatan tersebut memberikan pemahaman bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Ternyata menjaga alam bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan tidak membuang sampah sembarangan,” tutur Desmas.
Camat Lumbis Hulu, Justinus, S.Sos., M.A.P., menyampaikan apresiasi kepada SPTN Wilayah I Long Bawan atas kesempatan yang diberikan kepada para pelajar untuk mengenal langsung Taman Nasional Kayan Mentarang.
“Kami berterima kasih kepada pihak SPTN Wilayah I atas kesempatan ini. Kami ingin anak-anak kita mengenal langsung Taman Nasional Kayan Mentarang yang menjadi kebanggaan kita bersama. Harapan kami, setelah kunjungan ini mereka tumbuh menjadi generasi yang peduli dan ikut menjaga hutan, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di kampung masing-masing. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut,” kata Justinus.

Foto Bersama Camat Lumbis Hulu
Melalui kegiatan pendidikan lingkungan hidup ini, SPTN Wilayah I Long Bawan berharap tumbuh rasa memiliki dan kepedulian para pelajar terhadap kawasan konservasi. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus dibagikan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing. Ke depan, kerja sama antara SPTN Wilayah I, pemerintah kecamatan, dan pihak sekolah diharapkan terus berlanjut melalui kegiatan edukasi lingkungan lainnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto Bersama.
cr : SPTN I Long Bawan
oleh vincentius tito | Okt 14, 2026 | Berita
Rimba yang tersebar di Indonesia memang masih belum sepenuhnya tereksplorasi secara maksimal. Terkadang, hewan-hewan baru dan unik yang dapat mendirikan bulu kudung ditemukan di sana. Salah satu hewan unik yang jarang terekspos yang berasal dari belantara Kalimantan, adalah Tupai berbuntut lebat. Hewan yang bernama ilmiah Rheithrosciurus macrotis itu menurut para ilmuwan adalah hewan yang aneh. Selain bentuknya lebih besar ketimbang tupai pada umumnya. Untuk ekor, komposisinya 30% lebih besar dari tubuhnya yang berukuran 36 cm. Ekor Tupai Vampir disinyalir sebagai sensor navigasi dan penyeimbang akrobatik ketika sang tupai menerkam mangsanya. Memiliki gigi yang kuat untuk memecah biji-bijian keras dan kuku yang runcing dan tajam guna membantu memanjat pohon. Jenis Tupai ini memiliki ekor terbesar di dunia.
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bebarapa tahun terakhir melakukan pemasangan kamera trap hingga saat ini sebanyak puluhan unit yang tersebar di beberapa resor untuk merekam dan memotret setiap aktivitas satwa liar. Salah satu satwa liar yang terekam kamera trap adalah Tupai Vampir Kalimantan yang berhasil terekam di Resor Pujungan SPTN III Long Ampung pada tahun 2023-2024. Sedangkan baru-baru ini bulan Agustus 2026, Tim Resor Apau Kayan SPTN III Long Ampung berhasil mengabadikan perjumpaan langsung melalui kamera tele baik foto maupun video. Jika berdasarkan hasil rekaman kamera trap dan kamera tele jarak jauh, aktivitas Tupai Vampir aktif pada siang hingga sore hari. Sebagian besar aktivitasnya berada di lantai hutan, mencari biji-bijian buah hutan, tetapi sesekali kadang bertengger di dahan pohon sedang memakan buah hutan. Selain terdokumentasi di SPTN III Long Ampung, Tupai Vampir ini juga terdomuentasi di Resor Krayan SPTN I Long Bawan dan Resor Sungai Bahau SPTN II Long Alango.


Tangkapan Kamera Jejak di Resort Pujungan SPTN III Long Ampung – 2023 & 2024
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut, ME mengatakan “Keanekaragaman hayati baik tumbuhan maupun satwa liar termasuk sekosistemnya di kawasan TN Kayan Mentarang masih belum semua terungkap mengingat luasnya kawasan. Sampai dengan saat ini berdasarkan hasil rekaman pada aplikasi SMART Patrol, setidaknya kawasan TNKM yang telah di patrol dan atau di survey/eksplorasi diperkirakan sekitar 20% dari total kawasan yang ada data sebaran temuan tumbuhan dan satwa liar. Pemasangan kamera trap merupakan salah satu cara untuk mengetahui hidupan liar di alam dimana satwa liar terutama satwa teresterial sangat sulit dijumpai, kalaupun ditemukan adanya keberadaan satwa liar melalui petjumpaan tidak langsung dari jejak tapak kaki, fases, bagian tubuh satwa (bulu/rambut/tulang/tanduk), kubangan satwa, bekas cakaran di pohon, dll. Tidak hanya Tupai Vampir yang berhasil diabadikan melalui kamera trap, ada pula Macan Dahan Kalimantan, Babi Berjenggot, Burung Kuau Raja, Burung Sempidan Biru, Kijang, Kancil, Rusa Sambar, Monyet Ekor Panjang, Beruk, Lutung Banggat, dll. Upaya Balai TNKM untuk terus melakukan pengumpulan data tumbuhan dan satwa di dalam kawasan TNKM akan terus diupayakan melalui berbagai instrument kegiatan”.
IUCN Red List menyebut Tupai Vampir Kalimantan masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) akibat faktor perusakan habitat, fragmentasi hutan, dan perburuan.
“Hutan Kalimantan adalah rumah bagi tupai dengan ekor yang luar biasa dan gigi yang sangat tajam. Menurut kepercayaan masyarakat, gigi tupai itu dapat menggorok leher rusa. Meski tampak menggemaskan, menurut para pemburu Dayak di Kalimantan tempat tinggalnya, ia adalah pembunuh berdarah dingin,” tulis Helen Pilcher di laman Science Focus. Pada tahun 2020, para peneliti menemukan bahwa gigi-gigi aneh tupai tersebut sebenarnya digunakan untuk memecahkan kacang yang sangat keras. Dan bukan untuk menyayat pembuluh darah leher mangsanya. Tupai Vampir memiliki gigi seri panjang dengan lekukan yang dalam di rahang atas dan bawah.

Perjumpaan Langsung oleh Tim Patroli Resort Pujungan SPTN III Long Ampung – 2026
cr : @misoniman (KSPTN III Long Ampung)
oleh vincentius tito | Okt 8, 2026 | Berita
MALINAU. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan pegawainya ikut berpartisipasi dalam Seminar Nasional Biologi Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Mulawarman dan Universitas Lambung Mangkurat dengan tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” pada tanggal 1 Oktober 2026. Seminar tersebut dilaksanakan secara daring maupun luring terbuka untuk umum. Secara luring dilaksanakan bertempat di Gedung Science Learning Center (SLC) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman, Samarinda.
Keikutsertaan secara langsung dari BTNKM yang dihadiri oleh Misoniman, S.H (Kepala Seksi PTN Wilayah III Long Ampung) dan Marsianus Marthin Rivaldy, S.Si (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama) merupakan bagian dari peningkatan kapasitas SDM ASN di bidang konservasi alam. Join Seminar Nasional Biologi 2026 tersebut merupakan rangkaian puncak untuk membahas tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” dimana sebelumnya BTNKM ikutserta dalam berkontribusi sebagai pemakalah pada sub tema “Adaptasi Biologi, Etnobiologi tropis, Ekowisata pembangunan, dan Peran Sains” dengan judul makalah “Studi Etnobotani Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan dalam Pemanfaatan Tumbuhan dan Hewan Untuk Pengobatan di Desa Long Ampung dan Desa Metulang”. Desa Long Ampung dan Desa Metulang merupakan desa penyangga sekitarkawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang berada di Resor Apau Kayan SPTN Wilayah III Long Ampung. Makalah disusun oleh Marsianus Marthin Rivaldi, S.Si (Penulis Utama), Misoniman, S.H dan Jordan Mordekhai, S.H (Penulis Pendukung) berdasarkan riset yang telah dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap 20 informan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data yang berhasil dikumpulkan berupa data kuantitatif kemudian diolah menggunakan rumus RFC (Relative Frequency of Citation), UV (Use Value), ICS (Index of Cultural Significance), dan FL (Fidelity Level). Upaya untuk mempublikasikan pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan local masyarakat adat Suku Dayak Kenyah Lepo’ Jalan Desa Long Ampung dan Desa Metulang belum terpublikasikan secara spesifik, sehingga membuat peneliti/pemakalah melakukan riset lapangan. Data didapatkan sekitar 17 jenis tumbuhan dan 10 jenis hewan yang sering dimanfaatkan oleh mayarakat adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan. Jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional berasal dari pekarangan rumah, hutan, ladang, dan tepi Sungai. Tumbuhan yang banyak dimanfaatkan dalam pegobatan tradisional diantaranya Kunyit (Curcuma longa), Krangean/Balangla (Litsea cubeba), Serai Merah (Cyombopogon nardus), dan Temulawak (Curcuma zanthorrhiza). Sedangkan hewan yang banyak dimanfaatkan diantaranya Ulat Kelatang/Sumpan (Fam.Cossidae), Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus), Kelulut Beruang (Tetrigona binghami), Kelulut Hitam (Heterotrigona itama), Kelulut Kuning (Tetragonula melina), Kelulut Kuning Kepala Hitam (Tetragonula melanocephala), dan Lebah Madu Hutan (Apis dorsata).

Dekan FMIPA Prof. Dr. Hj. Ratna Kusuma, M.Si dalam sambutannya menyebutkan menyampaikan apresiasi keterlibatan dalam Seminar Nasional Biologi 2026 dan pemakalah dari berbagai mahasiswa jurusan Biologi, peneliti, lembaga maupun instansi salah satunya yang berasal dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Keynote Speaker yang hadir dalam seminar tersebut diantaranya Prof.Dr. Hetty Manurung, S.Si, M.Si (FMIPA Unmul), Dr. Tri Atmoko, S.Hut, M.Si (Peneliti BRIN), Dr. Gary L. Shapiro (Orang Utan Republic Foundation), dan Prof. Dr. Catur Ratnaningdyah, M.Si (FSTM Univ.Brawijaya)
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut, ME mengatakan, “ASN perlu terus meningkatkan literasi dan riset ilmu pengetahuan dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang ada di sekitar maupun di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang melalui berbagai upaya kegiatan di lapangan maupun pelatihan/bimbingan teknis, dan mempublikasikannya agar menjadi sumber informasi. Masih banyak yang perlu diungkapkan di Taman Nasional Kayan Mentarang tentang keanekaragaman hayatinya karena memiliki luas yang sangat besar sekira 1.271.665 Hektara melalui publikasi ilmiah” jelasnya.
Seno menambahkan, data dan informasi Taman Nasional Kayan Mentarang yang sudah hampir 30 tahun (7 Oktober 2026) masih perlu didorong untuk terus dieksplorasi untuk mengungkap lebih banyak lagi data dan informasi yang mungkin belum banyak di ketahui oleh khalayak umum, misalnya saja dilakukan riset dengan melibatkan berbagai peneliti atau ahli dan mendorong untuk terus mempublikasikannya baik melalui jurnal ilmiah maupun dalam bentuk publikasi lainnya.

“Dalam salah satu data yang didapatkan saat melakukan riset lapangan terkait etnobotani pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan tradisional, Ulat Kelatang (Fam.Cossidae) atau Sumpan (dalam Bahasa Dayak Kenyah Lepo’ Jalan) menjadi hewan yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Ulat Kelatang ini biasanya didapatkan dari bekas-bekas perladangan berpindah yang ditumbuhi jenis pohon-pohon pioneer. Semua bagian Ulat Kelatang dimanfaatkan, mulai dari dagingnya hingga minyak yang berada dalam empedunya. Sampai dengan saat ini masih belum diketahui jenis serangganya. Sedangkan pohon yang menjadi inang Ulat Kelatang diperkirakan dari genus Syzygium (Fam. Myrtaceae/suku Jambu-Jambuan). Biasanya Ulat Kelatang dimanfaatkan untuk penyembuhan luka luar, sakit lambung/maag, mempercepat penyembuhan luka, mengatasi gatal-gatal. Ulat Kelatang memiliki potensi bioprospeksi untuk dikembangkan guna kebutuhan pengobatan dan mengetahui senyawa kimia yang terkandung didalamnya. Sebelumnya Ulat Kelatang juga sudah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh Suku Dayak Lun Dayeh (Krayan) dan Suku Punan Tuvu’ (Sungai Tubu)” Jelasnya Misoniman. (*)
cr : SPTN III Long Ampung
oleh vincentius tito | Okt 3, 2026 | Berita
MALINAU – Sebagai wujud transparansi dan komitmen dalam menjaga kelestarian “Jantung Kalimantan”, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) sukses menyelenggarakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan tahun 2026 menggunakan instrumen Management Effectiveness Tracking Tool (METT). Kegiatan strategis ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus merancang langkah perbaikan tata kelola kawasan pelestarian alam ke depan.
Berbeda dengan evaluasi internal biasa, penilaian METT kali ini mengedepankan prinsip partisipatif dan inklusif. BTNKM menggandeng berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) kunci untuk duduk bersama, yang terdiri dari perwakilan masyarakat adat, Pemerintah Daerah, hingga mitra konservasi.

Diskusi Bersama Stakeholder Terkait Pengelolaan Kawasan TNKM
Dalam forum tersebut, seluruh pihak secara kolaboratif membedah dan memberikan skor terhadap 38 indikator penilaian tata kelola. Metode ini memastikan bahwa evaluasi tidak hanya dilihat dari kacamata pengelola, tetapi juga dari sudut pandang publik dan mitra yang bersinggungan langsung dengan kawasan.
Diskusi berjalan interaktif dan konstruktif. Masyarakat adat, mitra, dan Pemda secara terbuka menyampaikan berbagai pandangan, penilaian objektif, serta masukan terkait efektivitas pengelolaan TNKM selama ini. Ruang dialog ini membuka wawasan baru mengenai apa yang sudah berjalan optimal dan celah mana yang masih memerlukan intervensi.
Sebagai wujud konsensus dan legitimasi atas evaluasi bersama tersebut, di penghujung acara dilakukan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan. Penandatanganan ini dilakukan oleh seluruh perwakilan pihak yang hadir, menegaskan bahwa hasil penilaian METT 2026 beserta seluruh catatan masukannya telah diterima, disepakati, dan disahkan secara kolektif.

Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan
Seluruh pandangan, kritik membangun, dan saran strategis dari para stakeholder telah dicatat secara komprehensif oleh tim BTNKM. Hasil penilaian dan masukan ini tidak hanya akan berakhir sebagai dokumen evaluasi, melainkan diintegrasikan langsung sebagai landasan pijak (baseline) penyusunan rencana kelola, pengambilan kebijakan, dan inovasi perlindungan kawasan di masa mendatang.
Pelibatan multi-pihak dalam penilaian METT 2026 ini sejalan dengan semangat dan napas pengelolaan TNKM. Kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati tidak akan pernah bisa diwujudkan oleh satu pihak saja. Sinergi yang kuat antara masyarakat adat sebagai garda terdepan, dukungan kebijakan Pemda, kolaborasi mitra, dan manajemen BTNKM adalah kunci utama pelestarian yang berkelanjutan.
Melalui keterbukaan informasi dan pelibatan publik ini, BTNKM berharap pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang ke depannya dapat semakin efektif, adaptif, dan memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi keseimbangan ekologi, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan.