Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Malinau – Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, tersimpan peninggalan bersejarah berupa situs kuburan batu kuno leluhur suku Dayak. Peninggalan megalitik yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini menjadi bukti kuat keberadaan peradaban kuno, yang hidup menyatu dengan alam di sepanjang aliran Sungai Bahau.

Situs makam batu tersebut berada di wilayah kerja SPTN Wilayah II Long Alango, tepatnya di seberang Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu. Untuk mencapai lokasi harus menempuh perjalanan menggunakan perahu ketinting selama kurang lebih 60 menit dari Long Alango. Selama perjalanan disuguhi pemandangan hutan asri, jeram arus deras yang memacu adrenalin, hingga keindahan burung-burung liar.

Berdasarkan pantauan detikKalimantan di lokasi, terdapat sekitar 5 hingga 6 kuburan batu dengan ketinggian lebih dari satu meter. Inti makam berbentuk menyerupai mangkok batu besar yang ditutupi dan dikelilingi bebatuan tebal berdiameter sekitar satu setengah jengkal orang dewasa. Di dalam mangkok batu tersebut tersimpan susunan tulang belulang manusia. Kepala Adat Desa Long Berini, Irang Lawai, mengungkapkan keberadaan makam kuno ini sudah diketahui warga sejak puluhan tahun silam.

“Sekitar tahun 1933, waktu orang Berini bikin rumah dan pondok ladang di daerah itu, dari situlah warga tahu bahwa di situ ada kuburan kuno,” kata Irang Lawai saat ditemui di lokasi. Selasa (28/7/2026).

Kepala Desa Long Berini, Sili, menjelaskan tradisi pemakaman pada zaman dahulu sangat berbeda dengan metode penguburan masa kini. Dahulu, jenazah tidak langsung dikubur di dalam tanah, melainkan diletakkan di atas wadah kayu hingga membusuk.

“Setelah membusuk, wadahnya dibuka kembali, tulangnya diambil dan dibersihkan. Setelah bersih, baru dimasukkan ke dalam kuburan batu ini melalui ritual khusus,” jelas Sili kepada detikKalimantan.

Sili menambahkan satu wadah kuburan batu tidak hanya diisi oleh satu jenazah, melainkan berisi tulang belulang dari banyak individu atau satu keluarga besar.

“Saya pernah ikut membersihkan makam di seberang hulu kampung. Sewaktu dibuka, di situ ada 11 tengkorak kepala dengan ukuran bervariasi, dari yang besar sampai yang kecil disatukan di dalam satu kuburan batu,” ungkapnya.

Makam batu ini diyakini merupakan peninggalan suku Dayak Ngorek yang menjadi penghuni awal di wilayah tersebut. Namun, seiring perpindahan permukiman, suku Dayak Kenyah mulai mendiami kawasan tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa di beberapa lokasi makam batu ditemukan artefak tambahan berupa tempayan keramik kuno atau gong.

“Waktu kuburan batu ini ada, awalnya cuma batu saja. Setelah suku Ngurek pindah dan suku Kenyah masuk, tempayan atau gong ditaruh di situ sebagai warisan atau bekal bagi keluarga yang meninggal,” tambah Sili.

Peninggalan kuburan kuno ini tidak hanya terpusat di satu titik. Selain di seberang Desa Long Berini, situs serupa juga tersebar di beberapa lokasi seperti Long Pulung, Kuala Sungai Berini, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan di dalam hutan. Bentuknya pun bervariasi, ada yang berbentuk mangkok bulat dan ada pula yang berbentuk kotak batu yang ditopang tiang batu berdiri.

“Sayangnya, kondisi situs peninggalan sejarah bernilai tinggi ini kian memprihatinkan. Akibat minimnya perawatan dan ketiadaan pemeliharaan rutin dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kuburan batu kini mulai tertutup tanah, tertimbun dedaunan, hingga ditumbuhi lumut tebal,” rincinya.

Pemerintah desa dan lembaga adat setempat berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait, jurnalis, maupun pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) untuk membantu menata dan melestarikan situs tersebut.

“Harapan saya, peninggalan ini bisa ditata dan dirawat kembali. Jika bisa digali dan dirapikan ulang, situs ini akan sangat menarik untuk dijadikan potensi wisata budaya yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” tutur Sili.

 

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/budaya/d-8594278/kuburan-batu-kuno-di-tnkm-situs-sejarah-yang-butuh-perhatian.

Sambut HKAN 2026, Balai TN Kayan Mentarang Bersama Pemerintah Daerah dan Masyarakat Adat Sekitar Laksanakan Pelepasliaran Ikan dan Penanaman Pohon Buah di Long Tua

Sambut HKAN 2026, Balai TN Kayan Mentarang Bersama Pemerintah Daerah dan Masyarakat Adat Sekitar Laksanakan Pelepasliaran Ikan dan Penanaman Pohon Buah di Long Tua

Malinau – Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melalui SPTN Wilayah II Long Alango melaksanakan kegiatan pelepasliaran ikan dan penanaman pohon buah di kawasan Long Tua, Resort Sungai Bahau, SPTN Wilayah II Long Alango.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Balai TNKM dalam memperkuat pelestarian ekosistem kawasan konservasi sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan.

Penyambutan Kepala SPTN II Long Alango kepada Tamu Undangan

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pelepasliaran Ikan Salap (Barbonymus gonionotus), salah satu jenis ikan konsumsi yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, juga dilakukan penanaman bibit pohon buah lokal, yaitu Durian Duri Hitam dan Durian Bawor (Durio sp.), sebagai upaya memperkaya vegetasi sekaligus mendukung keberlanjutan sumber pakan satwa dan manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Kepala SPTN Wilayah II Long Alango, Heru Budianto, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kolaborasi dalam upayapelestarian kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.

“Pelepasliaran ikan dan penanaman pohon durian ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama konservasi kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang di wilayah Resort Sungai Bahau. Kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta para kepala adat di Kecamatan Bahau Hulu sebagai bentuk sinergi dalam menjaga kelestarian kawasan,” ujarnya.

Penanaman Pohon Durian Bawor (Durio sp.)

Pemilihan jenis ikan konsumsi dan pohon buah lokal unggulan tidak hanya bertujuan mendukung kelestarian ekosistem, tetapi juga memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin paham akan pentingnya menjaga kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan sekaligus sumber daya alam yang harus dimanfaatkan secara bijaksana.

Kolaborasi antara Balai TNKM, pemerintah daerah, serta masyarakat adat menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi. Dengan semangat Hari Konservasi Alam Nasional 2026, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian dan partisipasi aktif seluruh pihak dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Kayan Mentarang.

Balai Taman Nasional Kayan Mentarang terus berkomitmen mendorong berbagai kegiatan konservasi yang melibatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjaga kelestarian hutan. Melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak nyata, diharapkan nilai-nilai konservasi dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang demi terwujudnya pengelolaan kawasan yang lestari dan berkelanjutan.

Sinergi dari Meja Kerja hingga Pelosok Rimba: BTNKM Raih Penghargaan Kemenhut atas Pengelolaan Kawasan yang Efektif

Sinergi dari Meja Kerja hingga Pelosok Rimba: BTNKM Raih Penghargaan Kemenhut atas Pengelolaan Kawasan yang Efektif

MALINAU – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan Piagam Penghargaan kepada BTNKM atas capaian luar biasa dalam Perencanaan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA), Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dan Taman Buru (TB) yang Efektif di Tahun 2025.

Piagam Penghargaan

Bagi keluarga besar BTNKM, predikat “efektif” ini dimaknai jauh lebih dalam dari sekadar pencapaian administratif di atas kertas. Penghargaan ini merupakan manifestasi dari sinergi panjang dan berkesinambungan, yang merajut pemikiran konseptual di meja kerja hingga keringat perjuangan di pelosok rimba.

Keberhasilan ini berawal dari dedikasi tim perencana yang dengan cermat memetakan strategi perlindungan secara komprehensif, serta komitmen kuat pimpinan yang tak lelah mengawal arah kebijakan pelestarian. Rencana dan strategi tersebut kemudian dihidupkan oleh mereka yang berada di garis depan. Merekalah yang menerjemahkan setiap kebijakan menjadi aksi nyata di lapangan. Menembus derasnya jeram sungai, melewati pekatnya lumpur belantara, dan menempuh perjalanan berhari-hari demi memastikan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang tetap aman dari berbagai ancaman.

Perjalanan Tim Patroli Menuju Lokasi Target Kegiatan

Lebih dari itu, efektivitas pengelolaan BTNKM tidak hanya berfokus pada penyelamatan satu atau dua spesies satwa liar, melainkan perlindungan ekosistem secara utuh

Mulai dari mengamankan tegakan pohon-pohon raksasa, menjaga kejernihan urat-urat sungai yang menjadi sumber kehidupan, hingga mendokumentasikan kekayaan keanekaragaman hayati secara menyeluruh.

Satu elemen yang tidak kalah krusial di balik pencapaian ini adalah keharmonisan dengan masyarakat adat setempat. Rencana sehebat apa pun tidak akan berjalan tan

pa dukungan masyarakat lokal. BTNKM terus merangkul dan menghormati kearifan lokal warga sekitar kawasan yang telah turun-temurun menjadi penjaga rimba sesungguhnya. Kolaborasi antara petugas negara dan masyarakat inilah yang menjadi kunci utama kelestarian kawasan.

Piagam penghargaan dari Kementerian Kehutanan ini pada akhirnya adalah milik bersama. Tinta yang tertulis di atasnya sejatinya diukir oleh pemikiran, kebijakan, dan keringat yang dicurahkan oleh seluruh elemen penjaga hutan.

Pencapaian ini bukanlah garis akhir, melainkan sebuah pengingat sekaligus pemacu semangat bagi seluruh keluarga besar BTNKM dan masyarakat mitra konservasi untuk terus melangkah bersama. Sebuah komitmen berkelanjutan demi memastikan denyut nadi Jantung Kalimantan terus berdetak abadi untuk generasi mendatang.

Foto Kebersamaan Tim Patroli bersama Masyarakat Lokal

“PENDIDIKAN KONSERVASI” MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN TANAKAME (Taman Nasional Kayan Mentarang)

“PENDIDIKAN KONSERVASI” MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN TANAKAME (Taman Nasional Kayan Mentarang)

Long Alango- Jumat 22 Mei 2026 Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN II Long Alango Resort Sungai Bahau melaksanakan kegiatan Pendidikan konservasi di sekolah SMAN 10 Malinau Kec. Bahau Hulu dengan materi “Mengenal Lebih Dekat Dengan TANAKAME (Taman Nasional Kayan Mentarang) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan, menumbuhkan rasa peduli generasi muda terhadap Kawasan Konservasi Khususnya Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang ada di sekitar desa mereka. Kegiatan ini meliputi pemaparan materi dan diskusi.kegiatan ini diikuti oleh Siswa dan Siswi kelas 1 dan 2 SMAN 10 Malinau

 

Pemaparan Materi Konservasi oleh Irfan Andika selaku Penyuluh Kehutanan BTNKM

Dalam kegiatan ini. Pegawai Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN II Long Alango Resor Sungai Bahau yang di wakili oleh Penyuluh Kehutanan menjelaskan posisi strategis Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai salah satu Kawasan Hutan Hujan Tropis terluas di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, sebagai habitat penting bagi satwa kunci seperti Banteng Kalimantan, Kucing Merah, Macan Tutul, serta beberapa jenis burung endemik dan flora endemik Kalimantan yang hanya bisa di temukan di dalam Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Siswa dan siswi SMAN 10 Malinau diperkenalkan dengan sistem zonasi yang ada di dalam Kawasan untuk memberikan informasi zona mana saja yang dapat di manfaatkan oleh Masyarakat sekitar kawasan seperti zona tradisonal dan zona pemanfaatan, maupun zona inti dan zona rimba yang juga merupakan zona penting lainnya. Selain pengenalan sistem zonasi kawasan TNKM, siswa-siswi SMAN 10 juga dikenalkan dengan berbagai macam Taman Nasional lain yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai pengetahuan dasar dari menjaga alam.

 

Kepala SMAN 10 Malinau, Bapak Lengan, S.Pd., menyambut dan mendukung dengan baik kegiatan pendidikan konservasi yang dilaksanakan oleh Taman Nasional Kayan Mentarang. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting bagi siswa dan siswi yang hidup berdampingan langsung dengan kawasan hutan, sehingga dapat menumbuhkan kepedulian, pemahaman, serta kepekaan terhadap isu lingkungan. Selain itu, diharapkan para siswa dan siswi dapat turut berkontribusi dalam menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai warisan alam yang harus dilestarikan bagi generasi masa depan.

“Mendidik untuk konservasi bukan sekadar menjaga hutan, tetapi menanamkan kesadaran bahwa bumi adalah rumah bersama.”

Salam cinta salam juang, karena cinta kita berjuang. _Irfan_

cr : Irfan Andika

Optimalkan Satu Peta, Balai TNKM dan BPN Nunukan Sinkronkan Data Batas Kawasan

Optimalkan Satu Peta, Balai TNKM dan BPN Nunukan Sinkronkan Data Batas Kawasan

NUNUKAN – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dan Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan memperkuat kolaborasi melalui sinkronisasi data geospasial guna mendukung Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian hukum atas pemanfaatan lahan sekaligus meminimalisir tumpang tindih antara kawasan hutan dan Area Penggunaan Lain (APL) di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.

Kepala Seksi PTN Wilayah I Balai TNKM, Hery Gunawan, menjelaskan bahwa akurasi data batas kawasan menjadi hal yang sangat penting mengingat luas TNKM di Kabupaten Nunukan mencapai 272.930,16 hektare, mencakup wilayah strategis seperti Krayan dan Lumbis Hulu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan, Husen, S.H., menegaskan bahwa integrasi data ini merupakan bagian dari mandat nasional dalam mewujudkan satu referensi peta tunggal yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami di BPN Nunukan berkomitmen penuh mendukung sinkronisasi data geospasial ini. Tujuannya jelas, yakni memberikan kepastian hukum hak atas tanah bagi masyarakat sekaligus melindungi aset negara berupa kawasan konservasi. Dengan peta yang sinkron, kita dapat menghindari potensi konflik agraria dan kesalahan administrasi dalam penerbitan sertifikat tanah di sekitar batas kawasan hutan,” ujar Husen.

Koordinasi Bersama Kepala BPN Nunukan (Foto: SPTN I Long Bawan)

Ia juga menambahkan bahwa koordinasi lintas instansi ini akan mendukung pelaksanaan program strategis nasional, seperti Redistribusi Tanah dan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), khususnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.

Manfaat Utama Sinkronisasi Data:

  • Penyelesaian Tumpang Tindih: mengurangi keraguan administratif pada lahan yang berada di zona penyangga taman nasional
  • Percepatan Sertifikasi Tanah: memudahkan proses verifikasi status lahan sehingga sertifikasi tanah masyarakat adat dan masyarakat lokal dapat dilakukan lebih cepat dan aman
  • Perlindungan Ekosistem: memastikan pembangunan infrastruktur maupun aktivitas pemukiman tidak masuk ke dalam kawasan konservasi

Melalui integrasi sistem antara Kantor Pertanahan Kabupaten Nunukan dan Balai TNKM, diharapkan tata kelola ruang di wilayah perbatasan dapat berjalan lebih profesional, transparan, dan akuntabel sesuai semangat “Melayani Hingga Batas Negara.”