oleh vincentius tito | Sep 20, 2026 | Berita
SUMATERA SELATAN – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sekitar Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan terus diperkuat untuk mencegah api mendekati kawasan konservasi dan mengancam habitat Gajah Sumatra.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melakukan peninjauan langsung ke Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21, SM Padang Sugihan, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi penanganan Karhutla sekaligus memastikan kondisi gajah yang berada di kawasan konservasi tersebut.
SM Padang Sugihan merupakan salah satu kawasan penting bagi Gajah Sumatra di Sumatera Selatan. Di PKG Jalur 21 terdapat 29 ekor gajah jinak yang terdiri atas 13 jantan dan 16 betina. Selain itu, populasi gajah liar di lanskap Padang Sugihan diperkirakan mencapai sekitar 130 ekor.
Berdasarkan hasil pemantauan, 29 gajah yang berada di PKG Jalur 21 dalam kondisi baik dan belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap Karhutla. Kondisi tersebut terus menjadi perhatian seiring dengan upaya pengendalian kebakaran yang dilakukan di sekitar kawasan.
Penanganan Karhutla dilakukan dengan memperkuat personel di lapangan untuk mencegah api mendekati kawasan SM Padang Sugihan. Petugas juga telah membangun sekat bakar sebagai salah satu upaya menghambat pergerakan api menuju kawasan konservasi.
Selain pemadaman dari darat, penanganan juga didukung melalui pengerahan helikopter untuk operasi water bombing. Tim gabungan yang terdiri atas Manggala Agni, TNI, Polri, serta masyarakat turut terlibat dalam upaya pemadaman dan pengendalian api di lapangan.
Karena kawasan berada pada lanskap lahan gambut, penanganan dilakukan secara intensif untuk mencegah api kembali muncul setelah pemadaman. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BMKG untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memanfaatkan potensi hujan dalam membantu proses pemadaman.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pengendalian Karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dengan perlindungan satwa liar yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati Indonesia.
“Untuk kita berjuang memadamkan api itu penting, tapi tak kalah penting adalah memproteksi satwa liar kita yang merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus kita proteksi secara bersama-sama,” ujarnya.
Upaya perlindungan Gajah Sumatra di SM Padang Sugihan menunjukkan bahwa penanganan Karhutla perlu dilakukan secara terpadu. Pengendalian api, perlindungan kawasan, serta pemantauan kondisi satwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
Karhutla bukan hanya mengancam tutupan hutan dan lahan, tetapi juga dapat berdampak terhadap habitat serta kehidupan satwa liar di dalamnya. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak menjadi penting untuk memastikan kawasan konservasi tetap terlindungi dan satwa liar dapat terus hidup di habitat alaminya.
oleh vincentius tito | Sep 18, 2026 | Berita
NUNUKAN – Upaya menjaga kelestarian kawasan menjadi fokus utama Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKМ) dalam memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Kolaborasi dinilai penting untuk memastikan kawasan Taman Nasional tetap terjaga, sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan.Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan dan silaturahmi jajaran BTNKМ dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, diruang kerja Sekretaris Daerah Nunukan, Jumat (18/09/2026).
Pertemuan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas berbagai hal yang dapat dikolaborasikan dalam mendukung upaya konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
“Kami dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengucapkan terima kasih sudah diterima di Kabupaten Nunukan. dalam rangka silaturahmi dan koordinasi,” ujar Seno, Jumat (18/09/2026).
keberadaan dan kelestarian kawasan TNKM juga harus dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Ada hal-hal yang perlu kita kolaborasikan, kita sinergikan, kita kerjasamakan dalam rangka tujuan yang sama, terutama terkait dengan kelestarian kawasan Taman Nasional dan juga terkait dengan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar,” katanya.
Seno menegaskan, komunikasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kawasan dapat dikelola secara bersama. Program pemerintah daerah yang berkaitan dengan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk membangun sinergi dengan kegiatan konservasi.
“Kami juga sangat mendukung program-program yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Nunukan terkait dengan masyarakat, yang bisa kita sinergikan dan komunikasikan,” ujarnya.
Dukungan terhadap upaya konservasi tersebut juga mendapat respons positif dari Pemkab Nunukan. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.A.P., mengatakan kelestarian alam memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai, penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan BTNKМ diperlukan agar upaya menjaga kawasan konservasi dapat dilakukan secara bersama dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Silaturahmi ini bisa meningkatkan sinergitas. Yang penting adalah pemerintah daerah dan Balai bersama-sama menjaga kelestarian alam, karena dampaknya juga kepada masyarakat,” kata Iwan.
Iwan juga mengapresiasi berbagai kegiatan BTNKМ yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian kawasan.
“Banyak aktivitas kegiatan dari Balai yang memang mengedepankan masyarakat. Kami berterima kasih dan mudah-mudahan ke depan sinergi kita semakin baik,” tuturnya.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya BTNKМ memperkuat jejaring konservasi di tingkat daerah. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang terus dibangun, pengelolaan kawasan diharapkan semakin efektif dalam menjaga kelestarian alam Kayan Mentarang.
Bagi BTNKМ, konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan, tetapi juga memastikan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan tetap menjadi bagian dari proses pengelolaan secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk jangka panjang. (*)

cr : SPTN I Long Bawan
oleh vincentius tito | Sep 9, 2026 | Berita
NUNUKAN — Sinergi antara penjaga kedaulatan negara dan penjaga kelestarian lingkungan terus diperkuat di garis depan perbatasan Indonesia-Malaysia. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia Yonkav 13/Satya Lembu Ceta (SL) menggelar kunjungan kerja resmi ke Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).
Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan persepsi dan menguatkan koordinasi lapangan, khususnya terkait perlindungan serta pengamanan wilayah kerja Resor Lumbis yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Secara administratif, wilayah kerja Resor Lumbis ini masuk ke dalam area Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan.

Fokus Pengamanan dan Patroli Bersama Wilayah Resor Lumbis memiliki nilai geopolitik dan ekologis yang sangat tinggi. Selain menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah, kawasan ini menjadi salah satu titik rawan aktivitas ilegal lintas batas.
Beberapa poin utama kerja sama yang disepakati dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Pengawasan Lintas Batas:Mengintensifkan pemantauan terhadap patok batas negara dan aktivitas pergerakan ilegal di area hutan konservasi.
- Pencegahan Illegal Logging & Perburuan Liar:Menggabungkan pemetaan intelijen dan keahlian navigasi darat untuk meminimalisir perusakan hutan serta perburuan satwa dilindungi.
- Patroli Sinergis:Merencanakan patroli gabungan berkala antara prajurit Satgas Pamtas dan petugas Polhut/pengelola TNKM menyisir celah-celah rawan di sepanjang perbatasan Resor Lumbis.
Komitmen Menjaga Hutan Paru-Paru Dunia Perwakilan Satgas Pamtas Yonkav 13/SL menegaskan bahwa tugas pengamanan perbatasan tidak hanya berfokus pada ancaman fisik terhadap kedaulatan negara, tetapi juga mencakup perlindungan aset dan sumber daya alam nasional dari penjarahan.
Pihak SPTN Wilayah I Long Bawan menyambut positif kolaborasi ini. Dukungan personel dan pos-pos TNI di sepanjang perbatasan memberikan penguatan signifikan bagi petugas taman nasional yang menghadapi keterbatasan jangkauan di medan terisolasi.

Melalui sinergi erat ini, diharapkan keandalan keamanan serta kelestarian ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang tetap terjaga, menjadikan perbatasan Indonesia tidak hanya aman secara kedaulatan, tetapi juga lestari secara lingkungan.
cr : SPTN Wilayah I – Long Bawan
oleh vincentius tito | Agu 3, 2026 | Berita, Pemberdayaan Masyarakat, Pengelolaan Kawasan Konservasi
Malinau – Masyarakat Dayak Kenyah subsuku Lepo’ Ke dan Lepo’ Maut di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, memiliki penutup kepala tradisional yang sangat ikonik bernama saung seling. Bukan sekadar pelindung kepala biasa, topi berbahan rotan dan bambu ini adalah simbol status sosial tingkat tinggi.
detikKalimantan berkesempatan mengunjungi langsung lokasi pembuatan mahakarya tersebut di Desa Long Kemuat. Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak dua wanita berpakaian adat wanita khas Dayak lengkap dengan aksesoris seperti gelang, kalung, dan topi adat, tengah apik menganyam saung seling.Tangan-tangan terampil itu tampak begitu telaten dan sabar merajut bilah demi bilah rotan hingga membentuk kerangka topi penutup kepala tradisional tersebut.
saung seling memang bukan anyaman biasa. Pada masa lampau hingga saat ini, saung seling bermotif khusus merupakan identitas eksklusif kaum bangsawan atau paren Eksklusivitas budaya ini dijaga sangat ketat oleh para perajinnya, salah satunya adalah Ibu Limbang. Ia menegaskan bahwa saung seling tidak diproduksi secara massal dan pantang dijual kepada sembarang orang meski ada yang berani menawar harganya.
“Tidak sembarang juga jualnya. Kalau orang datang ke rumah mau beli, mereka harus jelaskan dulu dari keluarga mana,” ungkap Limbang kepada detikKalimantan sambil menganyam. Minggu (2/8/2026).
Ia menegaskan, dirinya baru akan menyerahkan atau menjual saung seling buatannya jika pembeli tersebut terbukti memiliki silsilah keturunan bangsawan Dayak Kenyah yang berhak memakainya.
“Kalau saya tahu orang tuanya (berhak), baru saya kasih,” tegasnya.
Aturan adat yang ketat dan tingkat kerumitan dalam membuat saung seling membuat pengrajin topi ini semakin langka. Sadar akan ancaman kepunahan, Limbang sudah mendedikasikan dirinya untuk belajar membuat saung seling sejak usia 18 tahun, diwariskan langsung dari orang tuanya.
“Orang tua saya yang ajarkan buatnya. Takut punah, nanti kalau orang tua sudah tidak ada, siapa lagi yang buat? Makanya dari umur 18 tahun saya mulai belajar,” kenangnya.
cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/budaya/d-8601379/topi-bangsawan-dayak-kenyah-ini-tak-bisa-dibeli-sembarangan. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
oleh vincentius tito | Agu 3, 2026 | Berita, Pengelolaan Kawasan Konservasi
Malinau – Liburan ke alam liar tak melulu soal rencana perjalanan yang terburu-buru demi sebuah foto epik. Seperti ketika menikmati perjalanan di Padang Savana Long Tua, Kalimantan Utara, kami belajar bahwa duduk diam menanti satwa liar di tengah kepungan kabut dan embun pagi adalah sebuah healing terbaik yang tak bisa dibeli di kota.
Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 Wita, namun mata kami sudah harus terbuka lebar. Udara pagi pedalaman Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, terasa begitu sejuk hingga hawa dinginnya perlahan menembus pori-pori jaket tebal kami. Suasana sangat hening, hanya ada deru arus giram Sungai Bahau yang memecah kebisuan hutan yang masih lelap dalam pelukan kabut putih.
Pagi itu, detikKalimantan bersama tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango, Balai TN Kayan Mentarang bersama sejumlah jurnalis, NGO, tenaga kesehatan, tenaga pengajar SMP dan SMA, serta kepala desa se Kecamatan Bahau Hulu, bersiap mengamati aktivitas banteng kalimantan (Bos javanicus lowii) atau yang disebut kelesiau oleh suku Dayak Kenyah. Menunggu satwa liar mengajarkan kita untuk tunduk pada aturan alam. Semuanya tak bisa instan. Langkah pertama kami dimulai dengan menyeberangi derasnya Sungai Bahau menggunakan perahu menuju titik awal hiking.
Begitu menginjakkan kaki di seberang, aroma khas tanah basah dan daun-daun hutan langsung menyergap penciuman. Kami melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di tengah vegetasi yang rapat.
Embun semalam masih menetes dari ujung-ujung dedaunan, membuat tanah berlapis humus itu menjadi cukup licin. Kiki, fasilitator komunitas KKI WARSI Kalimantan Utara asal Magelang yang ikut bersama kami, merasakan langsung tantangan rute berembun ini.
“Jalannya harus ekstra hati-hati karena licin banget kena embun pagi. Aku kebetulan pakai sandal gunung, jadi agak kewalahan,” ceritanya kepada detikKalimantan. Minggu (2/8).
Untuk menyiasati jalur basah ini, Kiki menyarankan traveler menggunakan sepatu karet berpul seperti bawahan sepatu bola, atau yang dikenal warga lokal sebagai sepatu belabak.
“Sepatu belabak itu tangguh banget buat medan terjal karena anti-selip. Jangan lupa juga pakai celana dan baju lengan panjang, karena di jalur basah begini banyak lintah,” pesannya.Menyusuri hutan hujan tropis yang basah oleh sisa hujan dan embun pagi tentu ada harganya. Di sinilah kami harus berhadapan dengan rintangan kecil yang selalu jadi tuan rumah tak kasat mata, yakni pacet.
“Bukan petualangan ke Kalimantan namanya kalau belum bertemu pacet. Hewan itu biasa berada di bawah lapisan dedaunan lembap. Pacet ibarat ninja, diam-diam sudah ada di sekujur tubuhmu,” bebernya.
Gigitannya yang mengandung zat anestesi alami membuat kita sering kali tak sadar saat digigit. Tahu-tahu, ada rasa gatal atau kaus kaki sudah dihiasi bercak merah kehitaman karena ‘donor darah’ dadakan.
“Tadi sempat parno juga sih karena rutenya basah berembun, itu kan surganya lintah. Karena persiapan kurang dan cuma pakai sandal, jalannya jadi harus sambil larak-lirik ke kaki. Makanya, kalau mau ke sini, celana panjang, baju lengan panjang, dan kaus kaki tebal itu harga mati!” seru Kiki sambil tertawa mengingat drama kecil di jalur pendakian.
Agar napas tak habis terbuang sia-sia, kami sengaja melambatkan ritme langkah. Mendaki bukit dengan kemiringan yang perlahan kian ekstrem hingga nyaris 90 derajat bukanlah perkara mudah.
Namun, peluh itu seketika kering saat kami tiba di titik tertinggi. Sebuah pondok kayu dan papan penanda bertuliskan “Padang Rumput Long Tua” menyambut kami.
Di sinilah momen kesadaran penuh diuji. Kami duduk diam, meresapi setiap detik embun yang turun dari kabut tebal yang perlahan menyelimuti hamparan savana hijau sejauh mata memandang. Udaranya sangat bersih, meresap segar ke dalam paru-paru.

Kolam di atas bukit Savana Long Tua.
Lalu, bagaimana dengan sang banteng? Alam nyatanya sedang ingin bermain rahasia. Pagi itu, kawanan kelesiau enggan menampakkan wujudnya di padang rumput. Menariknya, tak ada sedikit pun gurat kekecewaan. Kegagalan bertemu satwa eksotis ini justru menjadi ruang syahdu tersendiri. Kiki bahkan meromantisasi momen penantian tersebut.
“Aku memang pengen banget lihat banteng. Tapi karena dia nggak muncul, ya nggak apa-apa. Tadi saat nunggu, aku malah dengar jelas suara burung enggang bersahutan dari kejauhan. Saya makin kagum, sekalipun tak lihat wujudnya dari mana. Suasana damai seperti ini nggak ada di Magelang, ini benar-benar pengalaman mahal,” tuturnya dengan senyum puas.
Bagi Kiki, perjalanan menembus embun di pedalaman Kaltara ini tidak sekadar menikmati alam, tapi juga menemukan kehangatan manusianya.
“Saya kadang dengar stereotip kalau orang Dayak itu primitif. Ternyata itu salah! Warga di Desa Apau Ping ini sangat ramah, baik, dan hangat banget menyambut tamu,” tegas Kiki.
Jika Traveler tertarik mencari kedamaian di tengah savana berembun ini, siapkan waktu ekstra. Rutenya dimulai dengan terbang ke Tarakan, dilanjutkan naik speedboat menuju Malinau. Dari Malinau, kamu harus menumpang pesawat perintis menuju Long Alango (sekitar 45 menit), sebelum akhirnya menyusuri sungai dengan ketinting ke Long Tua selama 2-3 jam. Jangan lupa, urus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) via online di portal TN Kayan Mentarang sebelum berangkat, ya!
Meski perjalanannya menguras tenaga dan waktu, duduk menanti di tengah Savana Long Tua yang berselimut embun akan selalu memanggilmu untuk kembali. Tertarik merasakan healing di Jantung Borneo?
cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Syahdunya Pagi di Savana Long Tua: Menikmati Embun, Menanti Sang Banteng” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/wisata/d-8600767/syahdunya-pagi-di-savana-long-tua-menikmati-embun-menanti-sang-banteng.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/