Malinau – Liburan ke alam liar tak melulu soal rencana perjalanan yang terburu-buru demi sebuah foto epik. Seperti ketika menikmati perjalanan di Padang Savana Long Tua, Kalimantan Utara, kami belajar bahwa duduk diam menanti satwa liar di tengah kepungan kabut dan embun pagi adalah sebuah healing terbaik yang tak bisa dibeli di kota.
Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 Wita, namun mata kami sudah harus terbuka lebar. Udara pagi pedalaman Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, terasa begitu sejuk hingga hawa dinginnya perlahan menembus pori-pori jaket tebal kami. Suasana sangat hening, hanya ada deru arus giram Sungai Bahau yang memecah kebisuan hutan yang masih lelap dalam pelukan kabut putih.
Pagi itu, detikKalimantan bersama tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango, Balai TN Kayan Mentarang bersama sejumlah jurnalis, NGO, tenaga kesehatan, tenaga pengajar SMP dan SMA, serta kepala desa se Kecamatan Bahau Hulu, bersiap mengamati aktivitas banteng kalimantan (Bos javanicus lowii) atau yang disebut kelesiau oleh suku Dayak Kenyah. Menunggu satwa liar mengajarkan kita untuk tunduk pada aturan alam. Semuanya tak bisa instan. Langkah pertama kami dimulai dengan menyeberangi derasnya Sungai Bahau menggunakan perahu menuju titik awal hiking.
Begitu menginjakkan kaki di seberang, aroma khas tanah basah dan daun-daun hutan langsung menyergap penciuman. Kami melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di tengah vegetasi yang rapat.
Embun semalam masih menetes dari ujung-ujung dedaunan, membuat tanah berlapis humus itu menjadi cukup licin. Kiki, fasilitator komunitas KKI WARSI Kalimantan Utara asal Magelang yang ikut bersama kami, merasakan langsung tantangan rute berembun ini.
“Jalannya harus ekstra hati-hati karena licin banget kena embun pagi. Aku kebetulan pakai sandal gunung, jadi agak kewalahan,” ceritanya kepada detikKalimantan. Minggu (2/8).
Untuk menyiasati jalur basah ini, Kiki menyarankan traveler menggunakan sepatu karet berpul seperti bawahan sepatu bola, atau yang dikenal warga lokal sebagai sepatu belabak.
“Sepatu belabak itu tangguh banget buat medan terjal karena anti-selip. Jangan lupa juga pakai celana dan baju lengan panjang, karena di jalur basah begini banyak lintah,” pesannya.Menyusuri hutan hujan tropis yang basah oleh sisa hujan dan embun pagi tentu ada harganya. Di sinilah kami harus berhadapan dengan rintangan kecil yang selalu jadi tuan rumah tak kasat mata, yakni pacet.
“Bukan petualangan ke Kalimantan namanya kalau belum bertemu pacet. Hewan itu biasa berada di bawah lapisan dedaunan lembap. Pacet ibarat ninja, diam-diam sudah ada di sekujur tubuhmu,” bebernya.
Gigitannya yang mengandung zat anestesi alami membuat kita sering kali tak sadar saat digigit. Tahu-tahu, ada rasa gatal atau kaus kaki sudah dihiasi bercak merah kehitaman karena ‘donor darah’ dadakan.
“Tadi sempat parno juga sih karena rutenya basah berembun, itu kan surganya lintah. Karena persiapan kurang dan cuma pakai sandal, jalannya jadi harus sambil larak-lirik ke kaki. Makanya, kalau mau ke sini, celana panjang, baju lengan panjang, dan kaus kaki tebal itu harga mati!” seru Kiki sambil tertawa mengingat drama kecil di jalur pendakian.
Agar napas tak habis terbuang sia-sia, kami sengaja melambatkan ritme langkah. Mendaki bukit dengan kemiringan yang perlahan kian ekstrem hingga nyaris 90 derajat bukanlah perkara mudah.
Namun, peluh itu seketika kering saat kami tiba di titik tertinggi. Sebuah pondok kayu dan papan penanda bertuliskan “Padang Rumput Long Tua” menyambut kami.
Di sinilah momen kesadaran penuh diuji. Kami duduk diam, meresapi setiap detik embun yang turun dari kabut tebal yang perlahan menyelimuti hamparan savana hijau sejauh mata memandang. Udaranya sangat bersih, meresap segar ke dalam paru-paru.

Kolam di atas bukit Savana Long Tua.
Lalu, bagaimana dengan sang banteng? Alam nyatanya sedang ingin bermain rahasia. Pagi itu, kawanan kelesiau enggan menampakkan wujudnya di padang rumput. Menariknya, tak ada sedikit pun gurat kekecewaan. Kegagalan bertemu satwa eksotis ini justru menjadi ruang syahdu tersendiri. Kiki bahkan meromantisasi momen penantian tersebut.
“Aku memang pengen banget lihat banteng. Tapi karena dia nggak muncul, ya nggak apa-apa. Tadi saat nunggu, aku malah dengar jelas suara burung enggang bersahutan dari kejauhan. Saya makin kagum, sekalipun tak lihat wujudnya dari mana. Suasana damai seperti ini nggak ada di Magelang, ini benar-benar pengalaman mahal,” tuturnya dengan senyum puas.
Bagi Kiki, perjalanan menembus embun di pedalaman Kaltara ini tidak sekadar menikmati alam, tapi juga menemukan kehangatan manusianya.
“Saya kadang dengar stereotip kalau orang Dayak itu primitif. Ternyata itu salah! Warga di Desa Apau Ping ini sangat ramah, baik, dan hangat banget menyambut tamu,” tegas Kiki.
Jika Traveler tertarik mencari kedamaian di tengah savana berembun ini, siapkan waktu ekstra. Rutenya dimulai dengan terbang ke Tarakan, dilanjutkan naik speedboat menuju Malinau. Dari Malinau, kamu harus menumpang pesawat perintis menuju Long Alango (sekitar 45 menit), sebelum akhirnya menyusuri sungai dengan ketinting ke Long Tua selama 2-3 jam. Jangan lupa, urus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) via online di portal TN Kayan Mentarang sebelum berangkat, ya!
Meski perjalanannya menguras tenaga dan waktu, duduk menanti di tengah Savana Long Tua yang berselimut embun akan selalu memanggilmu untuk kembali. Tertarik merasakan healing di Jantung Borneo?
cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Syahdunya Pagi di Savana Long Tua: Menikmati Embun, Menanti Sang Banteng” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/wisata/d-8600767/syahdunya-pagi-di-savana-long-tua-menikmati-embun-menanti-sang-banteng.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/