Malinau – Di kota-kota besar atau restoran bintang lima, harga sajian Ikan Dewa (Mahseer) bisa menembus ratusan ribu hingga lebih dari Rp 1,2 juta per porsi. Namun di hulu Sungai Bahau, ikan air tawar bernilai fantastis ini tersaji hangat, murni, dan berlimpah.

Hampir lima hari menetap di kawasan Bahau Hulu, saya baru menyadari satu hal, warga lokal secara tak sadar telah memanjakan kami dengan kuliner paling mewah di tengah benteng terakhir hutan hujan Borneo. Siang itu, terik matahari menembus celah pepohonan di tepi Sungai Bahau. Beberapa warga lokal tampak sibuk di atas andras (bebatuan) sungai, membersihkan sisik dan sirip sejumlah ikan seperti baung, salap dan ikan dewa yang oleh masyarakat setempat dijuluki Ikan Padek atau Ikan Pelian.

Sajian istimewa ini disiapkan khusus untuk menjamu puluhan tamu undangan yang hadir dalam rangkaian journalist trip sekaligus peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Acara ini digagas oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).Demi menyajikan hidangan berkelas ini, warga lokal harus menembus giram sungai berarus deras yang terkenal ekstrem hanya untuk memastikan para tamu mendapatkan ikan segar terbaik.Tak ada koki berbintang atau bumbu instan yang rumit. Proses pengolahannya sangat bersahaja, yaitu direbus, atau digoreng langsung di tepi sungai. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah letak kelezatannya yang murni.

“Kita ambilnya hanya secukupnya saja. Itupun karena pas momennya ikan sedang bertelur dan untuk menjamu para tamu undangan,” ujar Along, salah seorang warga lokal sembari cekatan membersihkan sisik ikan di atas batu sungai.

Aroma gurih nan manis meruak tajam saat lemak alami ikan meleleh terkena nasi panas. Saat gigitan pertama mendarat di mulut, tekstur dagingnya terasa luar biasa lembut, manis alami, dan kaya akan lemak gurih. Sensasi renyah yang menyatu sempurna dengan lembutnya daging ikan.Bagi warga lokal, cara terbaik menikmati Ikan Dewa adalah memadukannya dengan ulekan cabai rawit lokal yang pedasnya menggigit di lidah. Di sela-sela menikmati hidangan, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM, Jefry Frihardian Gumilar, menjelaskan betapa berharga dan langkanya ikan air tawar spesies Tor ini.”Dari segi konsumsi, Ikan Pelian merupakan lauk makanan super mewah. Jika di Pulau Jawa, ikan Mahseer yang siap santap harganya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 1.200.000 per porsinya,” kata Jefri saat berbincang di Resor Sungai Bahau, SPTN Wilayah II Long Alango.

Proses Memasak Ikan di Tepi Sungai

Jefri menambahkan, dari beberapa literatur ilmiah, tingkat keberhasilan pembudidayaan Ikan Pelian terbilang sangat rendah. Jikapun ada yang berhasil membudidayakannya secara komersial, harga jualnya dipastikan melonjak tajam.

“Hal ini terjadi karena Ikan Pelian secara alami hanya bisa tumbuh subur di ekosistem sungai berarus deras dengan kualitas air hutan primer yang sangat jernih dan bebas polusi salah satu habitat terbaiknya adalah hulu Sungai Bahau,” bebernya.

Meski ikan ini bernilai jutaan rupiah di kota besar, harganya sangat terjangkau di tingkat lokal Bahau Hulu.”Di sini Ikan Pelian hanya dijual sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Padahal ikan ini sangat susah didapatkan karena hidup di sungai berarus kencang, sangat peka, dan sulit dipancing atau dijaring kecuali pada kondisi air tertentu,” jelas Jefri.

Populasi Ikan Dewa di Sungai Bahau masih sangat terjaga dibanding wilayah lain di Indonesia. Rahasianya terletak pada pola hidup masyarakat adat yang tidak mengkomersialkan hasil sungai secara berlebihan. Di kota-kota besar, tekanan populasi penduduk dan eksploitasi komersial membuat keberadaan ikan ini makin langka. Sebaliknya di Bahau Hulu, warga tidak menjual ikan ini keluar wilayah secara masif.

“Masyarakat sampai saat ini sangat menjaga habitatnya. Ikan ini hanya ditangkap pada momen-momen tertentu saja, salah satunya saat musim bertelur atau saat ada acara adat dan kedatangan tamu penting,” pungkas Jefri.

Meskipun di beberapa sungai lain di Kabupaten Malinau seperti Sungai Tubu, Sungai Mentarang, hingga kawasan Long Pujungan dan Long Benah, jumlah populasinya bervariasi, kearifan lokal suku Dayak di Bahau Hulu terbukti menjadi benteng alami terbaik yang menjaga sang ‘Raja Sungai’ tetap lestari.

cr : Oktavian Balang – detikKalimantan
Baca artikel detikKalimantan, “Mencicipi Kuliner Mewah Ikan Dewa di Tepi Sungai Bahau” selengkapnya https://www.detik.com/kalimantan/kuliner/d-8596633/mencicipi-kuliner-mewah-ikan-dewa-di-tepi-sungai-bahau.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/